SINOPSIS BEINTEHAA episode 155 (31 July 2014)

SINOPSIS BEINTEHAA episode 155 (31 July 2014) by. Sally Diandra Di kantor kepolisian, begitu Aaliya datang, Shaziya langsung membentak Aaliya karena telah mengeluh menentang Surayya dan Zain “Bagaimana jika ayah tahu tentang hal ini !” Aaliya menangis sambil memperhatikan Surayya yang berdiri di balik jeruji penjara dan berkata “Mami, aku tidak mengajukan keluhan apapun” ujar Aaliya sambil memegang tangan ibu mertuanya yang saat itu sedang memegang terali besi penjara, tiba tiba Shaziya menggeretnya dan menghempaskannya ke lantai dengan perasaan kesal “Pergi kamu dari sini !” bentak Shaziya lantang, sementara itu Surayya dan Nafisa hanya bisa terdiam sambil memperhatikan Aaliya yang tersungkur di lantai “Ayoo cepat bangun, Aaliya !” bentak Shaziya lantang, Aaliya merasa kalau dibelakangnya itu adalah Zain, Aaliya segera berbalik dan menatap ke dalam jeruji besi, ternyata benar Zain sedang duduk dilantai menatapnya dengan muka yang penuh dengan lebam “Zain !” Aaliya mulai menangis tersedu sedu dan menundukkan wajahnya dengan perasaan sedih “Oooh jadi kamu begitu marah padaku sehingga kamu juga tidak ingin melihat wajahku !” ujar Zain sengit sambil berjalan mendekat kearah Aaliya “Zain, percayalah padaku, aku tidak pernah mengajukan surat keluhan apapun ke polisi” 

Zain tersenyum sinis sambil membelai wajah Aaliya yang sayu “Bagaimana aku bisa mempercayai kamu, polisi telah menyiksa kami selama 7 jam ! Mereka berfikir kalau kami, aku dan ibu telah menculik kamu !” Aaliya semakin sedih mendengarnya “Aku tidak percaya siapapun sekarang kecuali ibuku sendiri ! Jiwaku telah terikat dengannya dan itu tidak akan bisa disembuhkan dan hukuman ini karena aku tidak mendengarkan apa kata ibuku ! Kamu telah memakaikan aku sebuah topeng dengan cintamu dan sekarang aku tidak mempunyai lagi” Aaliya terus menerus memohon pada Zain kalau dirinya tidak mengajukan keluhan apapun ke polsisi tapi Zain tidak mau mendengarkan ucapan Aaliya, tepat pada saat itu Ghulam, Shabana bersama Aayath dan Zubair sampai disana “Ambil anakmu ini dan bawa pergi dia dari sini !” bentak Zain sambil melempar Aaliya ke arah Ghulam 

Pada saat yang bersamaan Rehan sudah sampai di Barkath Villa, rumah itu nampak gelap tanpe penerangan lampu apapun dan terlihat sepi, Rehan berusaha memanggil manggil pelayan tapi tidak ada seorangpun yang datang, Rehan berusaha mengetuk ngetuk pintu dengan keras hingga mendapati pintu rumah tersebut terbuka, Rehan langsung memasuki rumah mewah itu dan memperhatikan kesana kemari, tiba tiba Rehan tersandung dan jatuh dilantai lalu melihat Usman sedang terbaring pingsan di lantai, Rehan berusaha untuk membangunkan Usman, namun usahanya sia sia belaka, tak lama kemudian salah satu pelayan datang kesana dan dia segera menyalakan lampu rumah itu, kemudian mereka berdua mengangkat Usman dan meletakkannya diatas tempat tidur 

Di kantor polsisi, Aaliya segera menemui inspektur polisi dan mengabarkan pada mereka kalau dirinya tidak pernah mengajukan keluhan apapun ke polisi, jadi semua surat keluhan itu adalah palsu “Tapi bagaimana bisa palsu, nyonya Aaliya ? Karena tandatanganmu ada di surat tersebut” ujar polisi heran “Ini memang tandatanganku tapi aku tidak tahu siapa yang telah mengambilnya” ujar Aaliya sedih, sementara di luar ruangan inspektur polisi Shabana menghampiri Nafisa dan bertanya “Nafisa, bagaimana bisa surat keluhan itu sampai di kantor polisi, sementara kami telah membuangnya ke tong sampah” Nafisa pura pura bingung “Aku juga tidak tahu, bibi” ujar Nafisa kemudian segera berlalu dari sana agar tidak ditanya tanya lagi oleh Shabana, Shaziya yang melihat gelagat Nafisa langsung mengejek Nafisa “Jadi kamu sendiri yang telah mengajukan surat keluhan itu ? Dan sekarang kamu pura pura bersandiwara !” Nafisa jadi salah tingkah di depan Shaziya Kembali ke ruangan inspektur polisi, Aaliya mengabarkan pada polisi kalau kedua orangtuanya yang telah meminta tanda tangannya “Mereka berfikir kalau ibu mertuaku telah menyiksa aku tapi sebenarnya nyonya Surayya itu seorang wanita yang baik, jadi aku mohon pak polisi bebaskan nyonya Surayya dan Zain, suamiku” pinta Aaliya dengan wajah memelas 

Di rumah Barkath Villa, dokter Spanyol, dokter pribadi Usman mencoba untuk mengobati koma yang diderita oleh Usman “Tuan Rehan, obat obatannya tidak bisa bekerja dengan baik dan kalau overdosis maka akan menyebabkan tuan Usman menjadi gagal jantung” dokter Spanyol itu mulai putus asa “Aku harap kamu bisa mengundang dokter Unanimu itu, mungkin dengan pengobatannya maka tuan Usman akan sedikit terobati” Rehan tersenyum dan berkata “Dokter Unani itu adalah ayahku sendiri” ujar Rehan bangga “Kalau begitu cepatlah telfon dia untuk datang segera kesini !” pinta dokter Spanyol 

Dikantor polisi, Rizwan mengajak kakaknya, Nafisa ngobrol “Kak Nafisa, sepertinya ada seseorang dirumah Barkath Villa yang telah melakukan hal ini dan kita harus mencari tahu tentang hal itu” ujar Rizwan cemas, tiba tiba Shaziya mendekati mereka dan berkata “Jika orang orang Bhopal mengatakan mereka tidak melakukannya maka seseorang pasti telah melakukannya dan kita seharusnya mencari tahu siapa orangnya itu segera !” Nafisa tidak suka dengan ucapan Shaziya “Seharusnya kamu tidak memanjakan mulutmu dengan kata kata yang busuk, Tuhan pasti akan menghukum pelakunya !” ujar Nafisa kesal “Aku sempat melihat bibi Shabana dan paman Ghulam membicarakan soal surat keluhan itu”, “Apa maksudmu, Nafisa ?” Shaziya langsung menyela ucapan Nafisa namun Nafisa tidak menjawab pertanyaan Shaziya dan mengajak Rizwan untuk segera berlalu dari sana, Shaziya merasa ada yang tidak beres padanya 

Di Barkath Villa, Rehan menerima telfon dari Fahad tapi Rehan langsung merijeknya “Rehan, katakan pada Fahad tentang situasi yang terjadi disini” pinta dokter Habeeb, ayah Rehan, akhirnya Rehan mengirimkan sebuah sms yang isinya kalau Usman baik baik saja, Fahad membaca sms itu dan mengabarkannya pada Zain “Kenapa dia mengirimkan sms, bukankah dia bisa menelfon ? Aku merasa ada yang tidak beres disana” ujar Zain cemas, pada saat yang bersamaan Surayya yang sedang tertidur tiba tiba bermimpi buruk hingga terbangun dan berteriak memanggil nama suaminya “Usmaaaan !!!” mereka berdua Zain dan Surayya berteriak meminta agar mereka dibebaskan, sementara di tempat Usman, saat itu tiba tiba tubuh Usman menggigil, tangannya bergerak gerak, matanya sedikit terbuka namun kemudian kembali lagi tidak sadar alias coma setelah teringat Surayya ketika ditangkap oleh polisi, dokter Habeeb benar benar merasa khawatir dan memberitahu Rehan untuk memanggil keluarga Usman secepat mugkin karena waktu kematiannya sudah hampir dekat, sedangkan di tempat Aaliya, Aaliya kembali memohon kepada inspektur polisi untuk segera menyelesaikan administrasinya dan membebaskan Zain dan Surayya, akhirnya tak lama kemudian polisi membebaskan Zain dan Surayya SINOPSIS BEINTEHAA episode 156 by. Sally Diandra
Bagikan :
Back To Top