SINOPSIS MOHABBATEIN episode 126 by. Sally Diandra

SINOPSIS MOHABBATEIN episode 126 by. Sally Diandra Di rumah keluarga Bhalla, Ruhi bertanya pada Romi apakah ibu Ishinya akan pulang atau tidak, tak lama kemudian Ishita dan Raman masuk ke rumah keluarga Bhalla, Ruhi sangat senang melihat Ishita kembali kerumah neneknya, Ruhi langsung berlari dan memeluk Ishita erat “Ibu Ishi, apakah ibu Ishi akan kembali ke rumah nenek lagi ?”, “Ibu Ishi tetap akan kesana tapi hanya untuk menemuinya” ujar Ishita “Oooh terima kasih Tuhan ! Aku harus bilang sama Shravan !” Ruhi segera berlari ke rumah keluarga Iyer untuk menemui Shravan, 

Romi dan tuan Bhalla berterima kasih pada Ishita karena akhirnya Ishita mau pulang, ketika Raman bertanya tentang Simmi, saat itu Simmi juga pulang kerumah dan terkejut melihat Ishita sudah berada dirumah orangtuanya “Simmi, ayo makanlah, nak”, “Aku capek, ibu ,,, aku mau tidur saja” Simmi bergegas masuk ke dalam kamarnya “Aku akan ngobrol dengannya”, “Raman, bagaimana kalau aku saja yang bicara dengannya, aku harus bicara soal kenyaatan yang ada” Ishita menimpali ucapan Raman “Silahkan !” akhirnya Raman mengijinkan Ishita untuk bicara dengan Simmi 

Ishita memasuki kamar Simmi dan mencoba ngobrol dengannya “Aku tahu kalau kamu sangat kecewa denganku kan ? Kamu seharusnya memang begitu karena semua ini telah terjadi dan kamu mendapatkan hukuman yang terbesar, kamu melihat hal ini dari sudut pandang seorang istri tapi ketika kamu melihatnya dari sudut pandang seorang wanita maka kamu akan menyadari apa yang terjadi padaku ini tidak benar” ujar Ishita sambil memperhatikan bayi Simmi dan berkata “Kamu selalu mencemas putrimu kan ? Percayalah padaku, aku akan selalu ada untukmu dan bayimu ini”, “Tidak usah bicara apapun, Ishita” ujar Simmi sinis 

“Aku akan selalu medukungmu Simmi, aku bisa mengerti kalau aku harus bertanggung jawab dalam hal ini” Simmi hanya terdiam sambil melipat baju baju anaknya “Simmi, apakah kamu mendengarkan aku ? Aku akan mencoba untuk meraih kepercayaanmu lagi” ujar Ishita sambil memegang tangan Simmi namun Simmi melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ishita “Ini tidak mudah bagiku, tapi ,,,”, “Tapi kamu akan mencobanya kan ? Terima kasih, Simmi” Ishita menyela ucapan Simmi “Ayoo kita keluar untuk makan malam”, “Kamu pergilah dulu, aku akan menyusul nanti, aku mau mengganti baju anakku dulu” pinta Simmi “Baiklah, keluarlah segera ya” Ishita lalu keluar dari kamar Simmi, 

Begitu Ishita sudah keluar, Simmi teringat pada kebohongannya pada keluarganya dan menemui Parmeet dipenjara, Simmi tetap percaya kalau Parmeet itu benar “Kamu benar Parmeet, seharusnya kita keluar dari rumah itu, tapi tenang saja, aku akan segera mengeluarkan kamu dari penjara dan kita berdua akan pergi jauh”, “Simmi apakah kamu mencintai aku ? Kalau kamu masih mencintai aku maka kamu harus melakukan seperti apa yang aku katakan” Simmi menuruti kata kata Parmeet “Sekarang kamu pulanglah ke rumah dan aku akan memikirkan bagaimana caranya keluar dari penjara ini, karena kali ini Raman tidak akan membantu kamu”, 

“Aku akan mencoba bicara dengan ibu, dan ibu pasti akan bicara dengan ayah, sepertinya mereka masih mengira kalau kamu tidak bersalah, Pameet” Simmi mencoba meyakinkan suaminya “Lebih baik kamu diam saja dulu dan tinggal dirumah itu”, “Tapi aku benci orang Madrashan itu !” ujar Simmi geram “Aku tahu tapi kamu harus tinggal disana dulu, Simmi” Simmi sangat membenci Ishita yang menghancurkan rumah tangganya “Aku benci kamu Ishita ! Kamu telah menghancurkan hidupku tapi suatu hari nanti, aku akan membalas dendam pada Ishita tepat pada waktunya !” ujar Simmi geram 

Saat itu nyonya Bhalla sedang marah pada semuanya “Toshi, hal ini salah dan kamu masih saja menyalahkan Ishita ?”, “Iyaa apa perlunya Ishgita berteman dengan Parmeet ? Jika aku jadi dia, aku tidak akan menampar Parmeet dengan keras karena disini pernikahan anakku hancur dan tidak ada seorangpun yang melihat penderitaannya, kamu memang hebat, suamiku ,,, tapi aku bukanlah orang yang hebat, anakku akan selalu menjadi prioritas utamaku ! Jika aku disuruh memilih antara anak dan menantu maka aku akan memilih anakku, jika kamu berkata aku salah, maka kirimkan saja aku ke penjara dan penjarakan aku disana !” nyonya Bhalla bergegas pergi dari sana sambil menangis 

Romi sedang ngobrol dengan Bala disebuah restauran dengan manisnya “Romi, coba kenalkan aku dengan teman temanmu yang kaya itu” Romi mengajak Bala masuk ke dalam restauran dan mengenalkan padanya teman temannya itu “Apakah kalian tidak masuk kuliah ? Sejak kapan kalian melakukan hal ini ? Dan siapa saja dosen dosen yang peons to teachers.terlibat dalam kasus ini ?” Bala mencoba memancing Romi dan teman temannya agar mengungkap siapa saja yang terlibat, Bala berharap dengan menggali lebih dalam semua informasi dari mereka yang berkaitan dengan skandal bocornya soal ujian maka Bala bisa membantu posisi Vandu yang sempat goyah sebagai ketua Dekan 

Dirumah keluarga Bhalla, Ishita sedang menaruh kain sareenya di dalam lemari, Raman masuk ke kamar dan bicara dengan manisnya pada Ishita “Sudah Ishita, biar aku saja yang melakukannya, kamu tahu kan kalau rumah ini adalah rumahku sebelumnya dan sekarang menjadi rumahmu juga, kamar ini dulunya juga punyaku, sekarang juga menjadi milikmu” Ishita tersenyum mendengar ucapan Raman sambil tersipu malu, Ishita mengira kalau Raman akan bersikap baik padanya “Dan lemari ini dulunya adalah lemariku dan sekarang tetap menjadi milikku !” ujar Raman sambil mengeluarkan semua kain saree milik Ishita, Ishita terkejut dan tidak percaya dengan sikap Raman yang berubah lagi 180 derajat “Lemari ini bukan tempat untuk menaruh kain saree itu, lemari ini adalah lemariku, titik !”, “Raman, apa yang kamu lakukan ?” Raman melemparkan semua kain saree milik Ishita ke tempat tidur dan mulai berkata kata dengan bahasanya sendiri “Jika aku berkata kata dalam bahasa Punjabi maka itu artinya kamu tidak akan mendapatkan tempat untuk bersembunyi diseluruh Madras” Ishita merasa kesal dengan ucapan Raman, 

Tepat pada saat itu Ruhi masuk ke kamar dan meminta Ishita untuk menceritakan sebuah dongeng untuknya, Ruhi melihat wajah Ishita sedang kesal “Ibu Ishi, kenapa ?” Raman memberikan kode ke Ishita untuk diam dan tidak mengatakan pada ruhi “Ruhi, kamu lihat kan kain saree ibu Ishi ini kan indah dan cantik, bagaimana menurutmu, apakah ibu harus menaruhnya ke dalam lemari ? Karena kalau tidak kain saree itu bisa kotor kan ? Tapi ayahmu tidak mengijinkan ibu Ishi untuk menaruhnya disana”, “Ayah, kenapa ayah tidak mengijinkan ibu Ishi menaruh kain sareenya didalam lemari ? Ayah kan pernah bilang kalau kita itu harus berbagi ?” Raman langsung mengeluarkan semua setelan jas dan celananya sambil berkata “Ayah ini sedang berencana untuk memasukan kain saree ibu Ishi, Ruhi” Ishita tersenyum senang “Ayah, masukkan kain sareenya dengan bagus yaa, ayoo Ruhi kita gosok gigi dulu” Ishita pergi bersama Ruhi 

Mihir datang ke rumah Appa untuk bertemu dengan Trisha “Trisha, ada apa denganmu ? Kamu baik baik saja kan ? Kenapa kamu bilang kalau kamu sakit ?”, “Aku sudah mencoba menghubungi kamu sejak 4 hari yang lalu untuk pergi berbelanja tapi kamu selalu alasan saja” ujar Trisha senang karena itu artinya Mihir peduli padanya begitu Trisha bilang sakit “Hari pertunangan kita tinggal sebentar lagi dan kita bahkan belum melakukan apa apa untuk persiapannya, bibi juga tahu kan kalau ini adalah pertunanganku jadi bibi tidak akan mengatakan apapun, kamu akan bersamaku selama seharian ini”, “Ya sudah sekarang kita pergi, bersiaplah” Mihika dan Amma tidak suka mendengar pembicaraan mereka berdua, 

Mihika dan Amma bergegas beralih ke dapur Mihir sedang menelfon seseorang dan membooking tempat untuk makan malam buat Raman dan Ishita, Mihika tidak mendengar pembicaraan Mihir dari awal, yang didengarnya kalau persiapannya harus kelas yang pertama, Mihika semakin tidak suka dengan sikap Mihir, sebelum Mihir mengatakan apapun padanya, Mihika sudah salah paham dengan rencana Mihir dan menyindirnya dengan halus, dalam hati Mihir berkata “Aku harap Mihika bisa mengerti apa yang telah aku lakukan untuk Ishita dan Raman, dulu kami berdua yang merencanakan bersama tapi hari ini aku merencanakannya sendirian” bathin Mihir senang “Nyonya Iyer, aku akan mampir ke rumah Raman dulu dan tolong katakan pada Trisha untuk menemui aku disana kalau dia sudah siap” pinta Mihir namun Amma terlihat sangat kesal 

Di rumah keluarga Bhalla, Raman sedang bermain karambol dengan ayahnya, Ishita membawakan sarapan pagi untuk mereka semua, Mihir juga datang kerumah mereka dan berkata pada dirinya sendiri “Waah rupanya hari ini seluruh keluarga sedang sibuk, lalu kapan Raman meluangkan waktu bersama sama dengan Ishita, satu sama lain ? Untungnya aku telah membooking sebuah tempat untuk Raman dan Ishita” bathin Mihir “Raman, nanti malam ada acara makan malam untuk para pebisnis, ada baiknya kalau kamu mengajak Ishita juga karena semua orang akan datang dengan istri mereka” Raman tertegun sambil berkata dalam hati “Masalah apalagi ini ? Sekarang aku harus mengajak gadis Madrashan ini bersamaku ?” bathin Raman kesal “Ooh tidak, Mihir ,,, karena aku tidak kenal dengan siapapun disana dan aku akan merasa aneh berada disana dan lagi aku kan harus menjaga Ruhi” ujar Ishita merendah  

Ishita sangat tahu diri kalau Raman tidak suka bila dirinya ikut dalam acara pesta seperti itu namun Mihir membuat sebuah alasan agar Ishita setuju untuk ikut pergi dengan Raman, Ishita melirik ke arah Raman yang tersenyum dengan senyumnya yang lebar seperti dipaksakan “Tidak, Mihir ,,, aku tidak mau”, “Kamu harus pergi, Ishita ,,, bagaimana kamu bisa kenal dengan mereka kalau kamu tidak pergi kesana” sela tuan Bhalla “Nah begitu, jadi semuanya beres sekarang ! Tenang saja, Ishita ,,, kamu akan mendapatkan waktu yang sangat menyenangkan disana, oh iya kalian berdua harus mengenakan pakaian yang formal dan kamu Ishita, kamu harus mengenakan sesuatu yang indah dan menarik karena kesan pertama itu sangat penting !” Mihir sangat bersemangat mendukung kepergian mereka berdua, tapi Raman dan Ishita lagi lagi mereka kesal satu sama lain dan tidak senang dengan hal ini SINOPSIS MOHABBATEIN episode 127 by. Sally Diandra

Bagikan :