SINOPSIS MAHAPUTRA episode 314 (17 November 2014)

SINOPSIS MAHAPUTRA episode 314 (17 November 2014) by. Sally Diandra Di rumah Fatta, Pratap meminta Chakrapani untuk tidak mengatakan apapun dalam pembelaannya untuk Ajabde “Aku ini sedang membicarakan pembelaanmu, pangeran” Pratap tertegun “Apa maksudmu, Chakrapani ?” dengan ragu ragu Chakrapani bertanya “Pangeran, katakan padaku, bukankah kamu mempunyai perasaan padanya ? Mengapa kamu suka padanya setelah dia merubah penampilannya ?” Pratap langsung mengangkat tangannya dan membentak Chakrapani “Hentikan, Chakrapani !” namun Chakrapani terus nyerocos “Apakah kamu tidak terpesona ketika bertemu dengannya ?”, “Tetap pada batasanmu, Chakrapani !” namun Chakrapani tetap bersikeras mengingatkan Pratap ketika mereka berdua bertemu dengan Ajabde dan Ajabde memintanya untuk tetap disana di Bijolia, Pratap teringat kenangan mereka berdua, Pratap juga teringat ketika ibunya, Ratu Jaiwanta Bai meninggalkan istana karena Ajabde “Bagaimana bisa kamu membenci istrimu sendiri ? Kamu harus mendengarkan suara hatimu sendiri” ujar Chakrapani “Lalu kapan kamu mau mengatakan yang sejujurnya pada Ajabde ?” Pratap tertegun “Iyaaa, aku memang seharusnya menjelaskannya di pekan raya tadi” sementara itu di istana Bijolia, Ajabde sangat marah dan hanya Pratap yang bisa mengaturnya sekarang “Saubhagyawati, apakah aku telah membuat sebuah kesalahan dengan mempercayai orang asing ?” tanya Ajabde, di tempat Pratap, Pratap teringat janji yang telah dibuatnya pada Raja Udai Singh “Aku akan meninggalkan Bijolia sekarang !” ujar Pratap sambil hendak pergi dari tempat tersebut dan bertanya pada Chakrapani “Chakrapani, kamu ingin ikut atau tidak ? Semuanya terserah kamu !” 

Di benteng Chittor, Jagmal dan Ratu Bhatyani memberikan sebuah pesan ke Dhaman Singh “Dhaman Singh, berikan surat ini pada pangeran Pratap dan bacakan di depan semua rakyat Bijolia dan katakan pada mereka kalau surat ini dari Raja Udai Singh !” tak lama kemudian Dhaman Singh membacakan surat tersebut di hadapan semua rakyat Bijolia, Pratap juga ada di sana mendengarkannya “Bijolia itu berbahaya bagi pangeran Pratap !” ujar Dhaman Singh, semua warga penduduk menatap ke arah Pratap penuh curiga namun ternyata ini adalah khayalannya belaka, Dhaman Singh kemudian berkata “Aku telah memahami semuanya, aku harus menyelamatkan pangeran Pratap !” tiba tiba Jagmal menampar salah satu pelayan yang ada disana dengan keras, Ratu Bhatyani malah mengkhawatirkan karpet favouritenya akan rusak “Jika aku menampar Dhaman Singh , kamu pasti akan merasaa tidak enak bukan ? Jadi aku menampar pelayan ini ! Aku mengirimkan kamu, Dhaman Singh ke Bijolia bukan untuk menyelamatkan kak Pratap ! Itu hanya sebuah rencana untuk kamu baca agar bisa memamerkannya ke kak Pratap ! Dia akan merasa kalau kamu datang untuk melindungi dia dan rakyat Bijolia akan memahami kalau ternyata kak Pratap selama ini telah menipu mereka dengan cara menyamar menjadi orang lain, Dhaman Singh membayangkan semua orang mengamuk ke arah Pratap 

Di tempat Pratap, Pratap meninggalkan tempat itu dengan kudanya, beberapa orang mulai mengikutinya, Fatta mendatangi Ajabde dan berkata “Kakak, apakah kamu tahu apa yang terjadi ?” tanya Fatta “Iya, aku tahu !” saat itu Pratap telah pergi “Lalu bagaimana dengan prajurit kita sekarang, kak ? Bagaimana kita akan bertarung dengan pasukan Afghanistan sekarang, kak ? Biarkan aku jelaskan semua ini, kak” pinta Fatta namun Ajabde menolaknya “Tidak ! Kita tidak bisa memikirkan hal yang sama tentang dia, dia telah melanggar kepercayaaku, aku akan bertarung dengan pasukan Afghanistan dengan seluruh tenagaku” ujar Ajabde sengit “Kakak, kamu tidak mengerti, apa yang akan terjadi padamu ketika hal ini menyangkut Pratap ?” Ajabde tertegun “Apa yang ingin kamu bicarakan, Fatta ?”, “Aku ingin mengatakan padamu tentang apa yang terjadi disana tadi, ini bukanlah kesalahan Pratap, akulah yang memprovokasi dia untuk bertarung dengan prajurit Bijolia dan menunjukkan kekuatannya” ujar Fatta canggung, Ajabde kaget dan bertanya “Apa ????”, “aku ini cemburu ketika kakak menjadikannya sebagai menteri, lalu aku meminta padanya untuk membuktikan kalau dia memang pantas berada di posisi itu, dia itu bukan salah satu dari orang Afghanistan dan kemarin tidak ada darah yang keluar dari prajurit kita, itu hanya sebuah pertunjukkan petarungan yang belum pernah aku saksikan sebelumnya, kak ,,, jadi kenapa kakak memecat dia ?” tanya Fatta heran, Ajabde teringata bagaimana dirinya membentak Pratap dan memanggilnya sebagai seorang pengkhianat “Tapi saat ini Pratap telah pergi dan kamu tidak mengira kalau dia akan kembali lagi ? Kalau begitu kamu yang mengatur para prajurit, Fatta” ujar Ajabde 

Pratap dan Chakrapani datang untuk mencari tahu tentang rombongan prajurit dari Mewar yang datang ke sana dan bersiap untuk bertarung, namun Pratap merasa kalau dirinya harus pergi menjauh dari Ajabde dan dia tidak akan mengenalkan dirinya pada Ajabde, dia harus menjaga janjinya pada ayahnya, Raja Udai Singh untuk tidak menemui Ajabde, 

Sementara pada saat yang bersamaan Badshah Khan meminta pada Parwat Das untuk menandatangani sebuah surat untuk perang dan mereka akan segera menyerang Pratap, saat itu si kuda putih terikat pada sesuatu, sedangkan Fatta menghentikan Dhaman Singh “Aku harus masuk untuk memberikan pesan ini, kami tidak akan menyakiti kalian” ujar Dhaman Singh “Aku tidak bisa menerima semua hal yang baik dari kalian tapi aku telah siap untuk menyambut kalian dan kalian juga bisa menguji aku” ujar Fatta “Cukup, Fatta !” ujar Ajabde kemudian Dhaman Singh membaca surat tersebut yang isinya kalau pangeran Pratap berada di Bijolia dan telah di serang pada saat acara lelang emas itu “Apa yang kamu katakan ?” Ajabde langsung teringat pada Pratap si tukang kuda dan berkata “Ini tidak benar ! Ini tidak mungkin !” Fatta terkejut dan bertanya pada Dhaman Singh “Apakah kamu mangatakan tentang pangeran Pratap ?” Dhaman Singh segera menganggukkan kepalanya “Iya ! Dia adalah pangeran Pratap dari Mewar” Ajadbe terperangah tidak percaya, sementara Fatta berdebat dengan Dhaman Singh dan mereka mulai bertengkar satu sama lain “Aku akan kembali lagi kesini dengan pangeran Pratap !” 

Di tempat Pratap, Pratap sedang berbicara dengan kudanya sambil memberinya makan, kemudian Pratap mendatangi sebuah kuil, di lain sisi Ajabde juga sedang memasuki kuil di dalam istananya “Yaaa, Dewa ,,, ternyata Pratap si tukang kuda itu adalah pangeran Pratap, suamiku sendiri” ujar Ajabde sedih, di tempat Pratap, Pratap berkata “Ajabde telah membuat masalah dengan ibuku hingga ibuku pergi ke sebuah kuil, apa yang telah Dewa berikan padaku hingga hari ini, aku bahkan sampai tidak bisa menjaga rahasiaku sendiri” ujar Pratap geram, tak lama kemudian di istana Bijolia, Ajabde menangis, Ratu Hansa Bai mencoba menghiburnya, sementara Fatta dan Dhaman Singh masih terus bertengkar, Ajabde segera menghentikan pertengkaran mereka “Fatta, hentikan ! Pangeran Pratap memang telah berada disini dengan cara menyamar tapi sekarang dia telah pergi” Dhaman Singh melihat beberapa warga penduduk menghampiri mereka “Rakyat Bijolia bisa langsung membunuh kalian semua dengan satu kali tanda dariku, mereka telah membenci Chittor, pangeran Pratap dan Maharana Udai Singh, jadi lebih baik kamu pergilah secara diam diam” ujar Ajabde

Namun Parwat Das menyela pembicaraan mereka dan bertanya tentang tugas seorang istri pada Ajabde “Kenapa kamu memberikan pasukanmu pada pangeran Pratap ? Ketika mereka sendiri menentang Bijolia ?” Parwat Das bertanya seperti ini untuk menipu Bijolia “Ya ! Aku akui kalau aku tidak tahu kalau dia adalah pangeran Pratap dan itu benar, semua orang sekarang ragu padanya dan aku meminta pada kalian semua untuk tetap mempercayai aku seperti sebelumnya” Badshah Khan menunggu saat yang tepat untuk menangkap Ajabde dan meminta para prajuritnya untuk membunuh rakyat Bijolia “Buatlah hal ini menjadi mudah untukku untuk menculik Bai ji lal” ujar Badshah Khan, di tempat si kuda putih yang nantinya bernama Chetak akhirnya bisa melepaskan dirinya sendiri, sedangkan di kuil tempat Pratap masih berbicara dengan Dewa “Aku tidak akan pergi dari kuil ini sampai aku mendapatkan sebuah jawaban” Pratap mulai membunyikan bel di kuil, tiba tiba angin bertiup sangat kencang, Pratap menutupi matanya dengan tangannya, tiba tiba dilihatnya ada sosok seorang perempuan yang berada di depannya, Pratap sangat terkejut ketika melihatnya SINOPSIS MAHAPUTRA episode 315 by. Sally Diandra
Bagikan :
Back To Top