SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 907 “ADITYA MERADANG” by. Sally Diandra | Sinopsis Mohabattein Antv

SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 907 “ADITYA MERADANG” by. Sally Diandra

Loading...
SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 907 “ADITYA MERADANG” by. Sally Diandra Shagun memberitahu Mani kalau dirinya akan mengajak Aaliya ke rumah sakit untuk melakukan general cek up, Mani mengijinkan mereka pergi, kemudian mereka menikmati sarapan dulu, setelah selesai Mani pun pergi “Aaliya, kamu santai saja, tenang dan tidak usah cemas, aku ada bersamamu, kamu bisa menemui Mihir nanti” Aaliya tersenyum senang, 

Sementara itu Romi meminta Neelu untuk lebih cepat dalam menyajikan makanan “Aku akan membawa paratha ini dan memakannya dijalan” Romi lalu memberitahu ibunya kalau dirinya mau berangkat ke kantor “Beritahu aku kalau ada kurir yang datang membawa paket penting”, “Apa itu, Romi ? Katakan pada ibu” sahut nyonya Bhalla “Itu sangat penting, ibu ,,, aku harus menunjukkannya ke Mihika” Romi lalu pergi dari sana, nyonya Bhalla lalu memberitahu Vandu tentang hal ini, mereka berdua semakin cemas memikirkannya karena bisa jadi itu adalah surat cerai Romi dan Mihika 

“Apa yang mungkin coba ? Mungkin Romi ingin menceraikan Mihika ? Aku mendengarnya ketika dia sedang ngobrol dengan Sanchi kalau Romi akan menyelesaikan masalah ini dengan baik, apa dia ingin menikah dengan Sanchi dengan menceraikan Mihika ?”, “Aku akan pergi, aku akan memberikan pelajaran pada Sanchi” saat itu Mihika datang kesana dan menatap kearah mereka berdua “Biarkan suratnya datang dulu, bibi ,,, Romi tidak boleh tahu kalau kita telah tahu tentang hal ini, kita akan meminta saran dari Ishita”, “Baiklah, surat itu mungkin saja bukan surat cerai” Mihika jadi marah dan berfikir kalau surat itu benar benar surat cerai untuknya 

Dirumah sakit, Ruhi memberikan sebuket bunga mawar untuk Mihir “Ini sungguh sangat cantik tapi tidak secantik Ruhi” puji Mihir, Simmi menyela “Bagaimana keadaanmu, Mihir ?”, “Jauh lebih baik, terima kasih untuk makanannya ,,, oh iya Raman, dimana Adi ? Apa dia tidak datang untuk menemuiku ? Aku sudah menelfonnya tadi tapi dia tidak menjawab” Mihir merasa heran “Adi sudah dewasa sekarang, dia pergi untuk mengurusi kantor selama kita tidak ada”, “Aku sangat senang mendengarnya, tapi ada apa ? Apa Ishita kesal padaku ?” Mihir merasa heran dengan sikap Ishita yang aneh “Tidak, Mihir ,,, aku hanya mencemaskan kesehatanmu saja” 

Saat itu perawat masuk ke dalam kamar dan bertanya tentang kondisi Mihir “Jauh lebih baik, suster”, “Apakah pacarmu tidak datang ?” goda perawat “Siapa ?”, “Itu gadis yang tempo hari membawamu kemari, dia itu sangat berani, dia telah berkelahi dengan para preman dan membawamu kemari, namanya Aaliya” Ishita jadi tegang begitu mendengar ucapan perawat “Kamu itu sangat beruntung mempunyai pacar seperti dia”, “Suster, kamu ini salah paham, Mihir ini sangat tua untuknya, mereka itu hanya teman sekantor” Raman menyela 

“Tidak, tuan ,,, kamu belum melihat dia, dia itu berteriak sekencang mungkin, dia berteriak kalau tidak boleh terjadi apa apa pada tuan Mihir” Ishita langsung ikut menyela “Suster, apakah kamu datang kesini hanya untuk menggosip ? Mari sini dan berikan padaku resep obatnya” Ruhi jadi heran melihat sikap Ishita yang aneh setelah mendengar cerita perawat tadi “Ada apa dengan ibu Ishi ?” Ruhi lalu teringat pada Adi, perawat itupun pergi bersama Ishita “Suster itu aneh, Mihir ini sudah tua tapi kamu tampan juga, Mihir” ujar Raman 

Diluar kamar Mihir, perawat itu lalu meminta maaf pada Ishita “Sudah berikan saja resep obatnya dan kamu bisa pergi” pinta Ishita, Ruhi lalu menemui Ishita “Ibu Ishi, apakah ada sesuatu yang terjadi ? Ibu tadi kelihatan begitu tegang, aku bisa membantu ibu”, “Tidak ada apa apa, Ruhi ,,, aku akan masuk dulu, untuk melihat apa Mihir sudah makan buah, minum obat yang diberikan oleh perawat tadi” Ruhi langsung menyela “Aku tahu kalau ibu Ishi pasti menyembunyikan sesuatu, baiklah ,,, aku harap ibu tahu kalau aku selalu bersama ibu” Ishita lalu masuk ke dalam kamar Mihir “Ini pasti tentang kak Adi” gumam Ruhi 

Adi sedang berada dikantor dan tidak bisa bekerja dengan baik karena memikirkan pengakuan Aaliya yang mencintai Mihir, seorang pria masuk keruang kerjanya untuk bertemu dengan Mihir “Dia sedang tidak ada disini, katakan saja padaku, ada apa ?”, “Kamu ini anaknya tuan Raman kan ? Kamu ini masih baru, aku rasa kamu tidak bisa mengurusi pekerjaan disini, kamu juga tidak tahu soal pabrik, aku akan bicara dengan tuan Mihir saja nanti kalau dia sudah kembali setelah sembuh dari operasinya” Adi jadi semakin marah “Bagaimana bisa kamu merendahkan aku dengan datang ke kantorku ? Bagaimana dengan paman Mihir ?”, “Bicaralah dengan nada rendah dan sopan, anak muda !” Adi malah memarahi orang itu 

“Kamu itu masih anak anak, kalau tuan Mihir ada disini, dia pasti akan menjewer telingamu !” Adi langsung mendorong pria itu keluar dari ruang kerjanya “Kamu telah menghina aku dengan mengangkat tanganmu seperti itu ! Aku tidak akan membiarkan kamu ! Permasalahan ini akan muncul di persatuan buruh”, “Apa kamu mau mengancamku di kantorku sendiri ?” Adi kembali mendorong pria itu dengan keras, salah satu anak buah Adi memberitahu pria itu kalau Adi tidak pernah bersikap seperti ini “Mungkin dia sedang sedikit setres dan bersikap seperti ini, aku mohon tolong jangan mengeluh”, “Apa dia harus mengangkat tangannya didepanku ? Lihat saja apa yang akan aku perbuat nanti” pria itu lalu pergi dari sana 

Mihir berterima kasih pada Aaliya karena telah menyelamatkan nyawanya “Aku mau makan” Shagun menawari Mihir untuk menyuapinya “Aku ingin makan sendiri, Shagun”, “Ini adalah tugasku untuk mengurus kamu, paman” sela Aaliya “Aku bisa makan sendiri”, “Kamu mau makan apa ?” tanya Aaliya lagi “Tadi Raman dan Ishita membawakan makanan untukku, aku ingin memakannya, aku janji aku akan memakan makanan ini nanti” sahut Mihir, 

Nyonya Bhalla mampir kerumah keluarga Iyer, rupanya nyonya Bhalla sudah mendapat paket dari kurir dan menunjukkannya ke Vandu “Coba kamu periksa apa isinya ?”, “Apa kita boleh membuka dan memeriksanya ?” nyonya Bhalla langsung mengangguk mengiyakan, Mihika menemui mereka dan bertanya “Apa itu ?”, “Bukan apa apa” sahut nyonya Bhalla tapi kertas kertas itu jatuh ke lantai, Mihika segera mengambilnya dan berkata “Surat ini buat Romi”, “Bibi Bhalla yang menerimanya, berikan padanya” sela Vandu “Baiklah, surat ini buat Romi, kita akan memeriksanya” kemudian Mihika mengecek surat surat itu, nyonya Bhalla dan Vandu merasa cemas “Apa isinya, Mihika” Mihika bergegas meninggalkan mereka dengan perasaan terkejut, nyonya Bhalla lalu berkata “Itu artinya Romi telah mengirimkan surat cerai untuk Mihika, apa yang akan terjadi sekarang, ya Dewi ?” sahut nyonya Bhalla cemas 

Dirumah sakit dokter memberitahu kondisi Mihir saat ini sudah mulai membaik “Tapi lukanya masa dalam tahap penyembuhan dan butuh waktu cukup lama, kami akan merawatnya disini”, “Tapi aku lebih percaya kalau Mihir akan lebih cepat sembuh kalau dia dirawat dirumah, apakah kami boleh membawanya pulang kerumah ?” sela Raman “Raman benar, aku akan merawat Mihir, dia akan aku rawat dirumahku”, “Tapi dirumahku lebih banyak orang, Mihir pasti akan merasa lebih nyaman” Mihir langsung setuju dengan pendapat Raman “Iyaa, betul, tuan Mihir seharusnya tinggal ditempat dimana dia merasa lebih nyaman” Ishita mulai gelisah “Bagaimana nanti reaksi Adi begitu melihat Mihir ada dirumah ?” bathin Ishita cemas, 

Saat itu Raman dapat telfon “Apa ? Adi mengangkat tangannya dan hendak menampar ? Apa kamu yakin ? Apa yang kamu bilang ? Berikan telfon ini padanya, aku mau bicara dengannya” namun ternyata Adi sudah pergi, Raman lalu menelfon Adi “Adi, dimana kamu ?”, “Aku ada dirumah, ayah” sahut Adi “Apakah begini caranya kamu mengurusi kantor ketika kamu mengambil alih posisi paman Mihir ?” Adi jadi marah begitu mendengar ucapan ayahnya “Aku ini memang tidak mampu, ayah !”, “Adi, lebih baik kamu dirumah saja, bagaimana bisa kamu mengangkat tanganmu pada salah salah satu pekerja ?” Adi lalu bertengkar dengan Raman, Ishita langsung menutup telfon itu dan berkata “Raman, jangan katakan apapun pada Adi !” bentak Ishita 

“Ada masalah apa ? Adi bicara dengan perasaan marah, kamu juga terlihat cemas, Adi bahkan berteriak pada semua orang, katakan padaku, ada apa ? Kita bisa memecahkan masalah ini” Ishita lalu menyela “Adi sedang patah hati, dia baru tahu kalau Aaliya lebih mencintai Mihir” Raman kaget “Aaliya mencintai Mihir, Raman”, “Itu tidak mungkin, Ishita ,,, usia mereka terpaut sangat jauh, apa kamu yakin ? Dan perawat itu  tadi bilang, kenapa aku jadi membentak ke Adi ? Dia mencintai Aaliya dan Aaliya mencintai pamannya, apa dia sudah gila ?” Raman jadi ikut gelisah “Ini bukan kesalahannya, Raman ,,, mungkin ini hanya kegilaannya saja, dan dia pikir ini adalah perasaan cinta” sahut Ishita 

“Ishita, kamu jangan ikut ikutan membela Aaliya” pinta Raman “Raman, dia tidak mempunyai orang tua yang bisa membimbingnya, Mani tidak ada disini, dia tidak mempunyai siapapun yang bisa membimbingnya, dan Aaliya juga tidak tahu kalau Adi mencintainya” sahut Ishita “Lalu bagaimana nanti sikap Mihir kalau dia tahu tentang hal ini ? Bodohnya aku mau membawa Mihir ke rumah, Adi juga ada dirumah, aku akan meminta Shagun untuk membawa Mihir, dia juga ingin kan membawa Mihir kerumahnya”, “Tidak, Raman ! Aaliya ada disana” sahut Ishita “Aku tidak peduli ! Aku harus lebih memikirkan tentang putraku sendiri !” Raman bergegas pergi dari sana 

Saat itu Aaliya dan Shagun sangat bersikeras untuk membawa Mihir kerumah mereka dan tinggal bersama mereka, Raman masuk ke kamar Mihir “Raman, aku rasa seharusnya aku tinggal bersama Shagun dan Mani”, “Aku rasa juga begitu, kamu seharusnya ikut dengan Shagun saja” ujar Raman sambil menatap kearah Aaliya, Ishita jadi semakin cemas “Kami akan merawatmu dengan baik, Mihir”, “Kamu bisa bicara dengannya dirumah nanti, Shagun” Raman lalu meminta Mihir untuk bersiap siap, Ishita meminta Ruhi untuk membawa Mihir, Aaliya segera memegang Mihir dan mengajaknya bersamanya, Ishita langsung menghentikan langkah Shagun sambil berkata “Shagun, aku ingin bicara denganmu” SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 908 by. Sally Diandra

Bagikan :