SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 852 “RUHI SANGAT KESAL DENGAN ISHITA” by. Sally Diandra | Sinopsis Mohabattein Antv

SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 852 “RUHI SANGAT KESAL DENGAN ISHITA” by. Sally Diandra

Loading...
SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 852 “RUHI SANGAT KESAL DENGAN ISHITA” by. Sally Diandra Mihika, nyonya Bhalla dan Shagun sedang membicarakan tentang menghilangnya Ishita, Mihika menangis dan mengkhawatirkan kondisi kakak sepupunya itu “Mungkin bisa jadi Ishita sengaja melakukan sandiwara seperti ini untuk membuat Ruhi tinggal disini lebih lama lagi” sela Shagun, nyonya Bhalla malah bertanya tentang Pihu “Pihu sedang pergi bareng temannya yang namanya Trisha” Shagun berusaha meyakinkan mereka kalau Pihu baik baik saja dan Shagunlah yang akan menjaga Pihu, kemudian Shagun mulai ngobrol dengan Ruhi dan mencoba menjelaskan padanya, 

Raman sendiri yang merasa bingung juga bertanya pada Romi “Kenapa Ishita bertindak seperti ini ? Ketika dia sendiri sudah siap untuk menikah”, “Mungkin saja dia sedang pergi ke suatu tempat, kak ,,, jangan cemas, oh iya tadi Mihir menelfon, dia mau datang nanti untuk mengajak kamu ke kantor, katanya ada meeting, bersiaplah sana” Raman menggeleng “Aku tidak mau bicara apapun, kemana Ishita pergi ?” ujar Raman kesal, saat itu para preman sedang membicarakan tentang penculikan mereka pada Ishita, mereka harus bisa menjaganya dengan lebih berhati hati 

Sementara itu Bala meminta Vandu untuk mengenakan pakaian yang sopan “Vandu, aku tidak bisa mentoleransi hal ini, ayoo pergi sana dan ganti baju sekarang juga !” dalam hati Vandu merasa kesal karena sebenarnya Vandu mengenakan pakaian itu hanya untuk Bala “Aku mau pergi ke kampus !” Vandu mencoba tidak menggubris perintah Bala, Bala langsung menari didepan Vandu dan berusaha mencegah Vandu agar tidak pergi ke kampus dengan pakaian yang seperti itu, akhirnya Vandu menyerah dan bergegas ganti baju, 

Saat itu Mihir juga ada disana dan bertanya “Bala, apakah semuanya baik baik saja ?”, “Iyaa Mihir, aku hanya mengerjai Vandu saja, dia itu ingin memberikan kegembiraan di pernikahan kami, dia inobrolgin berubah dan membuat aku cemburu, sekarang malah aku yang menggodanya” rupanya Vandu mendengar obrolan mereka “Aaliya telah membantu Vandu dalam melakukan ini semua” tanpa mereka duga saat itu Vandu ada disana dan memperhatikan mereka, Bala dan Mihir kaget begitu melihat Vandu 

“Bala, kamu ternyata hanya pura pura saja yaa, sekarang aku akan mengenakan pakaian ini dan pergi ke kampus !” Vandu segera pergi meninggalkan mereka, Bala langsung mengejar istrinya ini, sedangkan Mihir merasa heran “Kenapa Aaliya ikut campur dalam urusan Bala dan Vandu ?” Mihir merasa heran, saat itu di tempat Ishita, salah satu preman rupanya mendapat telfon, lalu dia memberitahu teman temannya kalau boss mereka meminta mereka untuk memindahkan Ishita lagi 

Sementara itu ban mobil pasangan suami istri, orang tua Trisha, teman Pihu rupanya pecah ditengah jalan “Suamiku, apa yang akan kita lakukan sekarang ?”, “Kita punya ban cadangan, aku akan memperbaikinya” ujar si suami, saat itu Pihu dan Trisha sedang ngobrol berdua, Pihu melihat ada beberapa pria sedang membawa sebuah karung besar yang berat dan dimasukkan ke dalam mobil van mereka, Pihu berfikir untuk menolong mereka untuk mengambilkan ban cadangan karena ban mereka pecah tapi saat itu Pihu melihat sepertinya ada kain saree Ishita yang menjuntai keluar dari dalam karung 

“Sepertinya aku pernah melihat kain saree seperti itu sebelumnya, tapi dimana ya ?” Pihu jadi penasaran, saat itu para preman mendapat telfon dari bossnya lagi “Kami ingin uang tambahan lagi, karena banyak sekali masalahnya” ujar sang preman, sedangkan Pihu mulai teringat kalau itu adalah kain sareenya Ishita “Oh iyaaa, aku sempat melihat bibi Ishita mengenakan kain saree seperti itu tadi pagi, tapi siapa mereka ?” Pihu semakin penasaran, para preman itu lalu meninggalkan mobil van tersebut 

Di rumah, Ruhi masih merasa kesal dengan Ishita “Ishita itu hanya berpura pura saja, aku tidak mau mendengarkannya lagi” Shagun mencoba membela Ishita di depan Ruhi “Ibu Shagun, aku mohon, tidak usah memihak pada Ishita !”, “Ruhi, tapi coba pikirkan sekali saja, kalau dia melakukan hal ini, ini semua untuk kamu sayang, dia sangat menyayangi kamu” hibur Shagun “Aku benar benar tidak percaya, ibu Shagun bisa bicara seperti itu ?”, 

“Ruhi, mungkin kamu tidak akan mengerti sekarang, tapi suatu saat nanti ketika kamu menjadi seorang ibu, kamu akan tahu, aku bisa memahaminya setelah aku membesarkan Pihu, ini adalah perasaan cinta dan kasih sayang yang tidak biasa, Ishita benar benar sangat peduli padamu, lupakanlah semuanya” pinta Shagun, saat itu Neelu menghampiri mereka dan berkata “Nyonya Shagun, nyonya Bhalla memanggil anda” Shagun kemudian meminta Ruhi untuk memikirkannya lagi dan pergi meninggalkannya 

Tak lama kemudian, Pihu menelfon Ruhi dan memberitahunya kalau dia baru saja melihat beberapa preman yang menaruh sebuah karung di dalam mobil van mereka, kebetulan saat itu ada kain saree yang menjuntai keluar dari dalam karung “Sepertinya itu kain sareenya bibi Ishita” Ruhi tertegun “Apa ? Apa kamu yakin, Pihu ?”, “Iyaa, aku yakin, orang itu kelihatannya seperti preman” dalam hati Ruhi mengira kalau Ishita melibatkan Pihu dalam sandiwaranya ini “Aku harus mengakhiri dramanya ini dan membuktikannya ke ibu Shagun dan bu hakim” bathin Ruhi kesal “Pihu, kamu saat ini berada dimana ? Berikan ponselmu pada ibunya temanmu !” pinta Ruhi kesal 

Mihir sedang menemui Aaliya dirumahnya “Ayah baru saja pergi”, “Aku datang kesini untuk bertemu denganmu, apakah kamu memberikan saran untuk kak Vandu ? Seharusnya kamu itu tidak usah memberikan nasehat apapun padanya, dia itu sudah menikah dan kamu tidak mengetahui bagaimana hubungan mereka berdua, Vandu dan suaminya” Aaliya tertegun “Aku hanya ingin membantunya, itu saja”, “Perhatianmu memang bagus, tapi mereka adalah pasangan suami istri, asal kamu tahu saja, hari ini mereka bertengkar gara gara kamu, kamu telah melakukan kesalahan, disana itu sudah banyak sekali masalah, jangan ditambah tambahi lagi, biarakan saja mereka, mereka pasti bisa menyelesaikan perbedaan diantara mereka berdua” Aaliya hanya bisa mengangguk, kemudian Mihir segera berlalu dari sana, begitu Mihir pergi, Aaliya bergumam “Paman Mihir berkata benar, seharusnya aku tidak menciptakan masalah dalam kehidupan pernikahan mereka, aku akan menelfon bibi Vandu” gumam Aaliya 

Saat itu Vandu sedang dalam perjalanan “Aku tidak mau bicara dengan Bala !” ponsel Vandu pun berdering, Vandu mengira kalau yang menelfon adalah Bala, namun ketika di ceknya ternyata Aaliya yang menelfon “Bibi Vandu, apakah bibi baik baik saja ?” tiba tiba mobil Vandu menabrak sebuah mobil van, Vandu segera meminta maaf pada para preman itu “Maafkan aku, aku tadi sedang merasa kesal dan setres, maafkan aku, aku akan membayar kerusakannya”, “Sudah sana, pergi kamu !” bentak preman itu, saat itu Vandu melihat ada seseorang di dalam karung “Apa itu ?”, “Heei nyonya, urusi urusanmu sendiri !” mereka kemudian pergi dari sana, 

Vandu segera mencatat nomer kendaraan van itu sambil berkata “Sepertinya ada yang tidak beres” gumamnya Kemudian Bala menelfon Vandu, namun Vandu tidak mengangkat telfonnya, Bala memberitahu Amma kalau Vandu tidak menjawab telfonnya “Apa kalian berdua bertengkar ?”, “Apa yang bisa aku katakan padamu, bu ? Aku tidak bisa mengatakannya” sahut Bala, Vandu akhirnya pulang ke rumah sambil menangis, Bala segera bertanya “Vandu, darimana saja kamu ? Kenapa kamu tidak mengangkat telfonku tadi ?” Vandu langsung memeluk Bala dan meminta maaf padanya “Kenapa kamu menangis ?”, “Aku takut, Bala” Bala berusaha menghiburnya, 

Amma bergegas mengambil air putih untuk Vandu “Kita semua bersama kamu” hibur Bala, Vandu segera meminum air putihnya “Ada apa ? Apa yang terjadi ?” Vandu segera menceritakan tentang kasus kecelakaan tadi di jalan “Apa itu kecelakaan berat ? Apa ada yang meninggal ?”, “Aku tidak tahu, Bala ,,, tadi di dalam mobil itu ada sebuah karung, karung itu bergerak gerak, mungkin ada binatang didalamnya, ketika aku bertanya pada mereka, mereka malah pergi begitu saja” ujar Vandu cemas “Kita harus memberitahu polisi dan dan membayar kerugiannya jika ada kerusakaan pada mobilnya” hibur Bala 

Raman baru tahu kalau Ishita benar benar tidak pulang ke rumah, Raman segera memberitahu Mihir “Kalau Ruhi memberitahu Niddhi tentang hal ini, maka hal ini akan menjadi sebuah masalah yang besar”, “Raman, kamu harus bisa mengurusi Ruhi, biar aku yang menghandle meetingnya” pinta Mihir, sementara itu Pihu meminta Ruhi untuk memikirkannya secara baik baik, 

Pihu memberitahu soal sticker yang tertempel di mobil van itu “Pihu, katakan saja kalau semua ini hanya permainan belaka, apakah bibi Ishita menyuruh kamu mengatakan semua ini ?”, “Tidak, kak Ruhi ,,, aku bahkan belum bertemu dengannya sedari tadi karena aku sedang main bersama temanku” jelas Pihu, mereka berdua kemudian dalam perjalanan mencari mobil van itu, 

Raman menelfon Ruhi, Pihu mencoba menjelaskannya ke Ruhi namun Ruhi memintanya untuk diam “Pihu, diam ! nanti ayah akan tahu dimana kita berada” Ruhi lalu mengangkat telfon Raman “Ruhi, dimana kamu ? Ayah akan pulang kerumah dan kita akan makan malam bersama sama”, “Tidak bisa, ayah ,,, aku sedang berada diluar, aku sedang menjemput Pihu, orang tua temannya Pihu tadi mau mengantar Pihu pulang tapi mobil mereka mogok” sahut Ruhi “Kalau begitu, ayah akan datang kesana”, “Jangan khawatir, ayah ,,, kami sudah dalam perjalanan pulang, kami cuma mau makan ice cream saja, lalu pulang ke rumah” 

Raman tetap bersikeras dan bertanya tentang taxi yang di tumpangi Ruhi secara detail “Aku akan mengirimkan detailnya melalui sms” Pihu langsung menyela “Jangan beritahu ayah, kak Ruhi ,,, kalau tidak dia tidak akan membiarkan kita pergi” Ruhi segera mengakhiri telfon Raman, Raman tertegun ketika telfonnya dimatikan dan sempat mendengar suara Pihu “Kenapa Ruhi berbohong ? Kenapa Pihu berkata demikian, ada apa ini ? Aku akan menelfon layanan taxi itu” bathin Raman cemas, Ruhi lalu memberitahu Pihu “Aku rasa ayah tidak tahu dimana kita berada, Pihu” ujar Ruhi SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 853 by. Sally Diandra

Bagikan :