SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 816 “PIHU SANG PENYELAMAT” by. Sally Diandra | Sinopsis Mohabattein Antv

SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 816 “PIHU SANG PENYELAMAT” by. Sally Diandra

Loading...
SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 816 “PIHU SANG PENYELAMAT” by. Sally Diandra Di hotel, Ruhi meminta Raman dan Ishita untuk pergi, Ruhi berdiri disebelah Niddhi, Raman dan Ishita berusaha meminta maaf pada Ruhi dan memohon padanya untuk ikut dengan mereka, namun Ruhi tidak bergeming, Ruhi tetap memilih bersama Niddhi, akhirnya polisi meminta Raman dan Ishita untuk pulang, begitu mereka pergi, Ruhi menangis, Ishita dan Raman juga menangis, Adi dan Mihika berusaha menghibur Ishita “Ruhilah yang membuat aku menjadi ibu Ishi, bagaimana bisa aku melakukan kesepakatan demi Pihu pada saat itu ? Mereka berdua adalah putriku dan kenapa Ruhi bisa berkata demikian ? Niddhi pasti telah meracuni pikirannya” Raman lalu meminta pada inspektur polisi untuk melakukan sesuatu 

“Maaf, tuan Bhalla ,,, kami tidak bisa melakukan apa apa, mereka adalah warga negara Australia, lebih baik kalian berdua pulang saja, kalau tidak mereka nanti yang akan melaporkan anda” sahut polisi “Raman, kamu harus bisa menjelaskan ke Ruhi, kalau kita ini tidak benci sama Ruhi, mintalah padanya untuk memaafkan aku ,,, Romi, kamu juga bisa bicara dengan Ruhi, dia juga sangat menyayangi kamu, aku mohon lakukan hal ini untuk aku, katakan padanya kalau ibu Ishinya tidak jahat” pinta Ishita sedih “Kak Ishita, kakak harus kuat dan jangan kalah, aku janji aku pasti akan mengembalikan Ruhi” ujar Romi sambil menangis “Saat ini Ruhi sedang marah karena dia telah berada jauh dari kita selama beberapa tahun, kita tidak tahu apa yang Niddhi katakan padanya dengan meracuni pikirannya, tapi aku yakin dia pasti akan kembali” hibur Romi 

“Romi, jangan berikan harapan palsu pada Ishita”, “Harapanmu boleh saja berakhir tapi harapan Ishita tidak boleh berakhir, semua ini terjadi gara gara kamu, kak” Mihika mencoba menyela “Romi, apakah sekarang ini saatnya membicarakan hal itu ?”, “Iyaa, Mihika ! Kak Ramanlah yang bertanggung jawab atas semua ini, dia yang membawa Niddhi kerumah, seharusnya dulu dia mengatakan apa rencananya pada seluruh keluarga, kita bisa saja menang, sementara kak Raman selalu saja menyalahkan orang lain untuk menyembunyikan kesalahannya, egonya, kemarahan dan kebanggaannya, kenapa semua ini terjadi ?” Romi mulai menumpahkan semua keluh kesahnya 

“Kak Raman sangat marah pada kak Ishita sehingga kak Ishita meninggalkan kakak, bahkan Ruhi, putrimu dan istrimu pura pura mati, semua ini karena kamu” Raman mulai menyadari kebenaran yang dikatakan oleh Romi dan juga kesalahannya, Raman terduduk lemas dan mulai menangis, Ishita juga menangis melihat kondisi Raman, Romi dan Mihika kemudian berlalu dari sana 

Amma meminta Vandu untuk menelfon Mihika, mereka melihat Ishita pulang kerumah “Ishita, apakah semua orang ikut pulang ? Ruhi pulang kan ?” saat itu yang ada hanya Raman, Ishita, Adi dan Aaliya, Amma dan Simmi lalu bertanya ke Raman dan Ishita tentang Ruhi, bahkan Shagun juga bertanya hal yang sama “Ruhi membenci kami, dia tidak mau pulang kerumah dengan kami, dia mengira kalau kami telah mengorbankannya demi Pihu, Niddhi juga meracuni pikirannya, Ruhi membenci seluruh keluarga ini” Amma kaget mendengar ucapan Raman “Apa ? Ruhi membenci kamu ?”, “Ibu, Ruhi membenci aku, hidupku telah berakhir, aku benar benar menjadi seorang wanita yang mandul, aku adalah seorang perempuan yang tidak mempunyai anak saat ini” Amma menggeleng mencoba menghibur Ishita 

“Tidak, Ishu ,,, jangan katakan hal seperti itu, Ruhi pasti akankembali padamu” mereka semua menangis sedih “Aku masih hidup dan memiliki kenangan yang indah tentang Ruhi, aku kira aku bisa melalui hidupku dengan kenangan indah akan Ruhi, Raman sendiri bilang padaku kalau aku tidak pantas menjadi seorang ibu, kamu memang benar, Raman ,,, Ruhi pergi, akupun pergi, aku memang pergi jauh tapi aku masih hidup dengan kenangan indahnya, tapi kali ini Ruhi telah meninggalkan aku” Appa mencoba menghibur Ishita “Ishu, kita akan bicara dengan Ruhi nanti” Ishita menangis sedih “Ruhi sangat membenciku ayah, aku ini adalah seorang ibu yang sangat buruk, aku telah meninggalkan putriku dan sekarang putrikulah yang meninggalkan aku, aku telah gagal” 

Raman, Shagun dan semua orang yang berada disana hanya bisa menangis “Semuanya telah berakhir sekarang” tiba tiba Ishita merasa kepalanya pusing dan pingsan tidak sadarkan diri, Mani dan Bala segera memegang Ishita, Bala lalu membawa Ishita ke rumah keluarga Iyer, Amma mencoba memercikkan air di wajah Ishita dan memintanya untuk membuka matanya, namun Ishita hanya diam dan tidak bereaksi “Raman, cepat panggil dokter” pinta Amma, Mani segera pergi mencari dokter, Shagun lalu juga pergi untuk mencari angin segar, mereka semua melihat Pihu juga ada disana “Pihu, kenapa kamu tidak tidur sayang ?”, “Aku sedang mengambil air, mama ,,, apa yang terjadi ?” tanya Pihu heran 

Ashok sedang memarahi Niddhi lewat telfon “Kenapa kamu tidak memberitahu aku tentang Ruhi ?”, “Apa pentingnya mengatakan padamu ?” balas Niddhi sengit “Kalau begitu tidak usah meminta bantuanku untuk mendapatkan Ruhi kembali, dia telah pergi bersama kedua orang tuanya”, “Tidak, Ruhi lebih memilih aku ketimbang kedua orang tuanya, dia bersamaku sekarang”Ashok terkejut, sementara itu Pihu sedang bertanya ke Shagun “Mama, apa yang mama lakukan di rumah keluarga Iyer ? Apakah mama membantu bibi itu ? Apa yang terjadi ?” Pihu semakin penasaran

Dokter sedang mengecek kondisi Ishita yang semakin memburuk “Tekanan darahnya sangat rendah sekali, panggillah Ruhi kesini, ini sangat penting” pinta dokter, Shagun sendiri sedang memberitahu Pihu tentang Ishita “Pihu, bibi Ishita itu sedang merindukan kak Ruhi, dia sangat menyukai kak Ruhi, rupanya kak Ruhi pergi secara tiba tiba sehingga bibi itu jatuh sakit”, “Bahkan aku juga merindukan kak Ruhi” Shagun terseyum “Kita semua merindukan kak Ruhi” saat itu Adi datang kesana dan memberitahu Shagun apa yang dikatakan oleh dokter yaitu untuk memanggil Ruhi kesana “Kalau tidak maka ibu Ishi ,,,” Pihu langsung menyela “Siapa itu ?”, “Bibi itu, Pihu” sahut Adi sedih, kemudian Shagun meminta Neelu untuk menidurkan Pihu dulu, Pihu segera pergi bersama Neelu 

Niddhi meminta Nurpur untuk memesankan tiket ke Australia secepatnya, saat itu Ruhi hanya terdiam sambil teringat pada Ishita dan Raman, Ruhi pun menangis “Aku benar benar membenci Raman Bhalla dan keluarganya” Ruhi menatap kearahnya, Niddhi pun membalas tatapan Ruhi “Jangan tatap aku seperti itu ! Kamu itu bisa hidup karena aku ! Keluargamu meninggalkan kamu, jadi jangan pikir untuk kembali ke keluargamu lagi, cepat kemasi barang barangmu, kita harus segera pulang ke Australia !” bentak Niddhi kesal, Ruhi hanya diam saja 

Dokter memberitahu Raman kalau kondisi Ishita saat ini sangat beresiko tinggi “Aku mohon, tuan Bhalla ,,, panggil Ruhi, ini penyakit trauma emosi, penting bagi nyonya Ishita untuk bertemu dengan Ruhi” Raman lalu mencoba menelfon Ruhi, saat itu Ruhi sedang mengemasi barang barangnya “Ayah menelfon ?” Ruhi sempat bimbang “Aku tidak mempunyai hubungan lagi dengannya, aku tidak mau bicara dengannya” ujar Ruhi sambil menangis, saat itu Raman juga sedang terduduk lemas sambil menangis, 

Mani melihat keadaan Raman lalu menghampirinya “Raman, kamu harus kuat”, “Mani, Ruhi tidak sepenuhnya salah, aku ini yang sangat kesal pada Ishita pada waktu itu tapi aku juga tidak bisa melihat Ishita sekarat seperti ini, kalau Ruhi tidak datang, Ishita pasti akan mati” saat itu Pihu melihat Raman sedang menangis “Ayah, ada apa ?” Raman tidak menjawab pertanyaan Pihu dan segera pergi dari sana, Pihu lalu bertanya pada Mani “Paman Mani, ada apa ?”, “Bibi Ishita saat ini sedang sakit sayang, dia ingin sekali bertemu dengan kak Ruhi” sahut Mani 

“Iyaa mama juga bilang padaku kalau kak Ruhi mau pulang ke Australia”, “Tidak, dia masih di India” jelas Mani “Kalau begitu telfon saja dia”, “Dia tidak mau mengangkat telfonnya” Pihu tertegun “Bagaimana bisa dia melakukan hal ini ? Paman, apa paman tahu dimana kak Ruhi berada saat ini ?” Mani mengangguk “Bawa aku menemui kak Ruhi, aku yang akan membawanya, aku melihat apakah dia mau datang atau tidak ?” Mani tersenyum senang dengan usulan Pihu SINOPSIS MOHABBATEIN SEASON 2 episode 817  by. Sally Diandra

Bagikan :