SINOPSIS MOHABBATEIN episode 566 “MIHIR BEBAS” by. Sally Diandra | Sinopsis Mohabattein Antv

SINOPSIS MOHABBATEIN episode 566 “MIHIR BEBAS” by. Sally Diandra

Loading...
SINOPSIS MOHABBATEIN episode 566 “MIHIR BEBAS” by. Sally Diandra Shagun dan Ishita datang ke tempat yang sama, saat itu Shagun mendapat telfon dari Manoj “Iyaaa Manoj aku akan melakukan saran ahli gizi yang diberikan padaku, ini akan baik untuk bayinya” Ishita melihat Shagun datang dan langsung menyapa, Ishita lalu memberikan selamat padanya “Aku baru tahu kalau kamu ternyata mempunyai kabar baik” Shagun tertegun dan merasa heran “Apakah Raman sudah mengatakan semuanya pada Ishita ? Tapi bukankah kami harus menyembunyikan hal ini sampai si bayi berusia 6 minggu ?” bathin Shagun heran “Ishita, apakah kamu mengetahui tentang hal ini ?”, “Iyaaa aku bisa melihatnya, wajahmu nampak berseri seri, kebetulan aku juga ingin menemui ahli gizi” tanpa mereka sadari ternyata Raman juga ada disana, Raman juga melihat mereka berdua ngobrol dan merasa khawatir karena dia belum menceritakannya pada Ishita tentang kehamilan Shagun, 

Sementara Ishita masih asyik ngobrol dengan Shagun “Bagus juga kamu menganggapnya ini sebagai hal yang positif” Ishita jadi bingung dan bertanya tanya tentang ucapan Shagun “Apa maksudnya ?” bathin Ishita heran, Raman segera menelfon Ishita untuk mengalihkan perhatiannya dari Shagun “Ishita, dimana kamu ?”, “Aku sedang berada diluar, sedang membeli barang barang yang diperlukan untuk proyek sekolahnya Ruhi” Ishita mencoba mencari alasan “Kamu bohong !” gumam Raman “Apa ?” Ishita merasa heran “Tidak, tidak apa apa, bagaimana kalau kita makan siang diluar ? Kita sudah lama tidak makan siang kan ? Ada restauran Italia yang baru buka”, “Tidak, makanan Italia biasanya terlalu banyak kejunya” Raman lalu mengejek Ishita tentang berat tubuhnya, Ishita langsung membalas kalau Raman juga lebih pendek darinya, 

Shagun melihat kearah Ishita sambil tersenyum dan bergumam “Ishita dan Raman sangat bahagia, aku harap bayi ini akan menambah kebahagiaan untuk mereka” gumam Shagun, saat itu pegawai klinik meminta Ishita untuk menemui dokter, Ishita kemudian berbohong pada Raman kalau penjaga tokonya memanggilnya kemudian menutup telfonnya dan masuk ke dalam ruang dokter, begitu Ishita masuk, Raman langsung menemui Shagun yang masih duduk disana “Raman, apakah kamu datang untuk menemani Ishita ?”, “Tidak, Ishita tidak tahu kalau aku kesini, Manoj yang bilang kalau kamu kesini jadi aku datang kesini untuk menemani kamu” ujar Raman “Tadi Ishita memberikan ucapan selamat padaku untuk kabar baiknya”, “Tapi dia belum tahu” sahut Raman “Tapi aku rasa dia sudah tahu”, “Tolong, jangan katakan apa apa padanya, jaga diri baik baik ya” Raman kemudian berlalu dari sana meninggalkan Shagun, Shagun jadi bertanya tanya “Lalu apa yang dikatakan Ishita tadi ?” bathin Shagun heran 

Di kantor polisi, Mihika datang untuk menemui Abhishek dan bertanya “Abhishek, apakah Mihir baik baik saja ?”, “Jaminan untuk Mihir di kabulkan” Mihika sangat senang mendengarnya sambil menangis bahagia, saat itu Mihir keluar dan menemui mereka diruangannya Abhishek “Kebetulan kami telah mendapatkan pitolnya, senjata yang digunakan oleh si pembunuh dan sidik jari Mihir tidak cocok dengan sidik jari yang ada disana karena itu sidik jari seorang perempuan jadi Mihir bisa bebas” Mihika sangat senang mendengarnya “Mihika, tolong tandatangani dulu berkasnya” Mihika segera menandatangani berkas pengeluaran Mihir dan kembali berterima kasih pada Abhishek “Ayooo Mihir, kita pulang kerumah” Abhishek hanya bisa diam dan menatap kearah mereka 

“Mihir, aku sangat bersemangat sekali karena kamu bisa keluar dengan jaminan, semua orang pasti juga akan senang melihat kepulanganmu”, “Tapi aku sudah tidak punya tempat lagi di dalam keluarga Bhalla, semuanya sudah berakhir, mereka mengira kalau aku yang membunuh Rinki” ujar Mihir sedih menimpali ucapan Mihika “Mihir, situasinya pada saat itu memang seperti itu, semuanya memberatkan dirimu, kak Raman sangat hancur hatinya, dia telah kehilangan adiknya” hibur Mihika “Mihir, aku harap kamu tidak memikirkan kalau keluargamu tidak menyayangi kamu, kak Ishita sangat cemas dan tetap merasa kalau kamu tidak bersalah, pulanglah kerumah, Mihir”, “Aku tidak bisa kesana, Mihika” ujar Mihir cemas “Demi aku, juga demi kak Raman dan kak Ishita, pulanglah ke rumah, percayalah padaku” pinta Mihika 

Ishita sedang bertemu dengan ahli gizi, Ishita meminta daftar diet yang harus dilakukan untuk mengontrol berat badannya “Yang kamu lakukan ini sudah benar, dokter Ishita ,,, aku sering bertemu dengan banyak perempuan yang ingin berat badannya turun tapi mereka tidak punya waktu untuk diri mereka sendiri dan tidak peduli dengan kesehatannya” ujar sang dokter, kemudian Ishita selesai melakukan cek up, dokter segera memberikan daftar dietnya “Aku sarankan padamu untuk membingkai foto lamamu ketika kamu masih langsing dulu agar kamu bisa terus menerus melihatnya untuk menginspirasi dirimu sendiri”, “Waaah itu ide yang bagus, aku akan melakukan hal ini” ujar Ishita penuh semangat 

Bala tidak melihat Shravan berada dirumah, Bala bergegas duduk dan mulai melakukan chatting onlie dengan laptopnya, saat itu Vandu menelfonnya, Bala memberitahunya kalau dirinya sangat merindukan Vandu “Aku saat ini sedang chatting ,,, maksudku sedang mengecek tugas murid muridku, kapan kamu akan pulang ?” tak lama kemudian telfon mereka berakhir, Bala merasa lega karena Vandu tidak akan pulang cepat “Dimana itu Abhishek yang sudah menjebakku itu ?” Bala segera menelfon Abhishek “Abhishek, tidak terjadi apa apa seperti yang kamu bilang, aku hanya membatasinya untuk berteman saja”, “Kenapa suaramu terdengar gugup ?” tanya Abhishek “Aku telah melakukan chatting untuk membuat Vandu merasa tidak aman dan cemburu, tapi aku takut”, “Kamu seharusnya menunjukkan padanya kalau kamu tidak punya waktu untuk sekedar ngobrol dengannya, maka dia akan mencari tahu dan merasa tidak aman” Bala mulai mengerti maksud Abhishek dan mengakhiri telfonnya 

Ishita mendapatkan foto lamanya sambil berfikir kalau foto itu akan menginspirasi dirinya, Raman masuk ke kamar dan melihat foto tersebut, Raman langsung menggodanya “Apakah ini benar benar fotomu ?”, “Ini fotoku dulu, ahli giziku bilang padaku ,,,” tiba tiba Ishita terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya “Kapan kamu pergi ke ahli gizi ? Oooh jadi tadi bohong tentang proyeknya Ruhi ?”, “Raman, ahli giziku bilang kalau aku tidak kelebihan berat badan, aku hanya harus menjaganya saja, aku sedang menantang diriku sendiri, jadi aku akan melakukannya” Raman lalu memegang tangan Ishita namun Ishita menghindar dan berkata “Aku akan makan makanan yang sehat” tiba tiba Raman tertawa ketika melihat ada cupcake dan pastry dikamar 

“Aku tidak memesan ini, kita harus mengembalikannya, aku sudah membeli makanan yang sehat” bela Ishita, Raman lalu keluar kamar, Ishita lalu menelfon toko makanan kesehatan dan memberitahu tentang barang barangnya yang tertukar dan bertanya tentang alamat orang yang membelinya “Aku akan memberikan padanya dan menukarnya” ujar Ishita, namun Raman tetap saja mengejeknya, Ishita membalas Raman dengan mengejek tubuhnya yang pendek, mereka berdua saling mengejek, mereka berdua saling mengejek satu sama lain, 

Tak lama kemudian Simmi meminta mereka untuk turun karena nyonya Bhalla memanggil mereka, ketika Raman dan Ishita turun, mereka berdua terkejut begitu melihat Mihir sudah berada dirumahnya “Beraninya kamu datang kerumahku ini ?” Raman kembali memarahi Mihir dan menyuruhnya pergi dari rumahnya karena dia telah membunuh Rinki “Mihir tidak bersalah, Raman !” bentak tuan Bhalla sambil menampar Raman dengan keras “Tidak ada bukti yang menunjukkan kalau Mihir membunuh Rinki, minta maaf padanya !” Raman terlihat kesal “Tidak perlu Raman meminta maaf, aku bisa mengerti penderitaannya, dia telah kehilangan adiknya, kamu kehilangan putrimu dan aku kehilangan istriku dan kepercayaan Raman meskipun aku terbukti tidak bersalah, aku tidak akan kembali lagi pada kalian semua” Raman langsung menyela ucapan Mihir “Kamu itu tersangka utama, kamu telah membunuh Rinki !” bentak Raman SINOPSIS MOHABBATEIN episode 567 by. Sally Diandra

Bagikan :