SINOPSIS MOHABBATEIN episode 521 “BALA BANTUAN DATANG” by. Sally Diandra | Sinopsis Mohabattein Antv

SINOPSIS MOHABBATEIN episode 521 “BALA BANTUAN DATANG” by. Sally Diandra

Loading...
SINOPSIS MOHABBATEIN episode 521 “BALA BANTUAN DATANG” by. Sally Diandra Sore itu Raman masih di hajar oleh para preman bayaran Suraj, Suraj dan Parmeet juga ada disana dan tersenyum senang melihat keadaan Raman yang babak belur, Ishita yang masih mendengar suara baku hantam melalui ponselnya segera memberitahu Simmi “Simmi, rupanya Raman sedang di pukuli”, “Dimana dia, Ishita ?” tanya Simmi cemas, Ishita menangis “Dia ada di tempat parkir mobil apartemen, cepatlah kesana Simmi !” Simmi bergegas memberitahu yang lainnya “Simmi kamu diam disini saja, jaga anak anak” pinta nyonya Bhalla, kemudian semua perempuan dari keluarga Bhalla dan Iyer keluar menuju ke area parkir mobil apartemen, mereka melihat Raman sedang dihajar oleh para preman, dengan penuh kepercayaan diri dan keberanian, para perempuan keluarga Bhalla balik menghajar para preman “Wooow ,,, lihat, para perempuan telah datang” ujar Parmeet yang sangat menikmati tontonan yang menarik ini, 

Sementara itu Ishita sedang dalam perjalanan sambil terus mendengarkan ponselnya yang masih terhubung dengan ponsel Raman, namun tiba tiba sambungan telfonnya terputus, rupanya ada seseorang yang menginjak ponsel Raman, sedangkan nyonya Bhalla melihat Raman yang terkapar ditanah dengan luka disekujur tubuhnya, nyonya Bhalla segera memeluk Raman sambil menangis sedih begitu melihat keadaan Raman yang begitu memprihatinkan “Kenapa kalian memukuli anakku ? Siapa yang menyuruh kalian ? Katakana namanya !” teriak nyonya Bhalla lantang, dengan sekuat tenaga Raman bangun dan mulai menghajar para preman itu, Suraj yang masih mengawasinya dari kejauhan mulai khawatir, tak lama kemudian tuan Bhalla datang tepat waktu sambil membawa sebuah tongkat, tuan Bhalla langsung memeluk Raman “Raman, kamu tidak apa apa ?” tiba tiba salah satu preman yang mulai menghajar tuan Bhalla, Raman tidak terima dan langsung menolong ayahnya meskipun kondisinya sendiri babak belur, Appa dan Romi juga ikut menghajar para preman itu, Parmeet dan Suraj semakin khawatir “Mereka telah bersama sama dan mulai menghajar para preman itu, kita harus pergi dari sini” ujar Parmeet cemas 

Saat itu salah satu preman memegang Sarika, Romi langsung menghajarnya, nyonya Bhalla juga memarahi para preman itu sambil berteriak “Kenapa kalian memukuli anakku ? Siapa yang menyuruh kalian ?” bentak nyonya Bhalla lantang, Suraj langsung melarikan mobilnya dan pergi dari sana, sebelum mereka tahu kalau dirinyalah biang semua insiden ini, sementara Ishita sudah sampai disana dan melihat para preman itu mulai berlarian, Ishita terkejut ketika melihat kondisi Raman yang terluka dengan banyak darah ditubuhnya, Ishita menangis dan bergegas menghampiri Raman “Raman, apakah kamu baik baik saja ?” mereka semua memegangi Raman dan Raman pun pingsan “Ayah, bawalah mobilku, kita harus membawa Raman ke rumah sakit” pinta Ishita, mereka segera membawa Raman ke rumah sakit, 

Sesampainya dirumah sakit, dokter segera mengecek kondisi Raman lalu mengobatinya, tak lama berselang rupanya Raman sadar “Raman sudah sadar” ujar nyonya Bhalla “Dimana aku ?” tanya Raman bingung “Dokter bilang kalau semuanya akan membaik” hibur Ishita, saat itu Raman melihat dokter sedang memegang jarum suntik dan hendak menyuntikkan ke Raman, Raman mulai panik “Kamu takut pada jarum suntik kan ?” hibur nyonya Bhalla sambil berusaha menenangkannya, mereka semua kemudian memegangi Raman dan dokter segera menyuntikkannya di tangan Raman, Raman melihat kearah jarum itu lalu pingsan lagi 

Dokter Manoj sedang dalam perjalanan pulang kerumahnya dan menelfon telfon rumahnya untuk memberitahu Shanti agar membuatkannya sup panas, Shagun yang saat itu berada dirumah, merasa heran “Siapa yang menelfon telfon rumah ? Aku tidak memberikan nomer telfonnya pada siapapun” ujar Shagun sambil mengangkat telfon itu tapi ternyata sambungan telfonnya sudah dimatikan, sedangkan didalam mobil, supir taxi melihat dokter Manoj sedang batuk batuk “Apakah aku harus mengantar anda ke dokter, tuan ?”, “Aku sendiri seorang dokter, sudah antar aku pulang saja” ujar dokter Manoj, 

Dirumah sakit, Raman berteriak ke arah salah seorang perawat dan perawat itu malah bertengkar dengan Romi, karena Romi membela kakaknya “Suster, jangan diambil hati yaa kemarahan anakku tadi, Romi ,,, itu karena Romi sangat menyayangi kakaknya” ujar nyonya Bhalla sambil mengajak Romi keluar dari kamar Raman, Ishita kemudian masuk ke dalam kamar Raman dan perawat yang berpenampilan aneh itu langsung pergi dari sana dengan perasaan marah “Raman, kenapa kamu bertengkar dengan perawat itu ?” tanya Ishita heran “Semua orang Madrasi iu sama saja, ayooo kita pulang kerumah !”, “Tidak ! Kita akan pergi dari sini setelah kondisimu membaik” ujar Ishita kesal 


Nyonya Bhalla lalu meminta Romi diam saja karena Raman sedang diobati “Ibu, kak Raman merasa kesakitan”, “Sudah lebih baik kamu beritahu Simmi saja sana !” ujar nyonya Bhalla, saat itu Raman berteriak “Aku tidak akan mengijinkan !” ujar Raman kesal, dokter kemudian menjelaskan soal lukanya Raman, Raman langsung menyela “Ishita tahu segalanya !”, “Iyaa, diamlah, Raman ! Kamu harus tinggal disini dulu” sahut Ishita “Dokter Ishita, tolong mintalah suamimu untuk bersikap tenang, dia telah membuat masalah dengan salah satu staff kami, tidak ada seorang perawat yang mau merawatnya” ujar dokter kesal “Raman, tenanglah, duduklah dulu”, “Aku tidak mau disuntik !” bentak Raman kesal, nyonya Bhalla berusaha bicara dengan Raman dan meyakinkan dirinya, 

Sementara itu Suraj sangat marah dan bertanya pada Parmeet yang memberitahunya kalau Raman sendirian “Seluruh keluarganya ada disana tadi ! Kenapa kamu bilang dia sedang sendirian ?”, “Kita masih punya satu cara lagi untuk mengembalikkan semua ini menjadi milik kita” Suraj tertegun dengan ucapan Parmeet “Apa maksudmu ?”, “Aku akan memberitahu pak Menteri tentang keadaan Raman” Parmeet bergegas menelfon pak Menteri sambil tersenyum senang SINOPSIS MOHABBATEIN episode 522 by. Sally Diandra

Bagikan :