SINOPSIS MOHABBATEIN episode 397 “RAMAN MEMPERDAYA ISHITA” by. Sally Diandra | Sinopsis Mohabattein Antv

SINOPSIS MOHABBATEIN episode 397 “RAMAN MEMPERDAYA ISHITA” by. Sally Diandra

Loading...
SINOPSIS MOHABBATEIN episode 397 “RAMAN MEMPERDAYA ISHITA” by. Sally Diandra Di kamar hotel, Shagun berteriak sambil berkata “Ishita, tidak bisa mengambil Ruhi dariku, tidak bisa !” teriak Shagun histeris sambil melempar semua barang yang ada di dekatnya, Ruhi tertegun melihat Shagun yang berteriak sedari tadi, Ruhi lalu berkata “Ibu Ishi akan mengambil aku dalam waktu 48 jam !” ujar Ruhi senang, sementara pengacara Ishita mengabarkan pada seluruh keluarga kalau Ruhi akan pulang besok” seluruh keluarga Bhalla merasa senang mendengar berita yang menggembirakan itu ”Aku akan memberikan manisan pada Adi, ayoooo Simmi bantu aku” Simmi lalu membawa Ishita ke kamarnya Adi, Ishita mencoba mengajak Adi yang saat itu sudah tertidur ngobrol, sedangkan Raman sedang menemui psikolog yang menangani kasus Adi 

“Tuan Raman, Adi mempunyai ketakutan didalam hatinya dan dia memiliki pemikiran untuk bunuh diri, saat ini Adi sedang berada dalam keadaan yang sensitif, dia sangat lemah”, “Lalu apa yang harus aku lakukan ?” tanya Raman cemas “Jangan tingkatkan rasa tidak amannya karena Adi biasanya datang bersama supir, nyonya Shagun tidak ikut dengannya”, “Aku sangat menyayangi Adi” ujar Raman, didalam kamar Adi, Ishita masih mengajak Adi ngobrol “Aku yakin kita pasti akan menjadi teman yang baik, kamu tidak ingin aku menjadi ibumu kan ? tapi kita akan menjadi teman, kamu bisa membagi semuanya, aku akan menunjukkan kasih sayangku sebagai seorang teman, kita tidak akan membiarkan hubungan ini hancur” ujar Ishita, psikolog memberitahu Raman kalau Ishita bisa menghubungkan Raman dengan Adi 

“Jangan kembalikan dia ke Shagun, dia akan merasa kalau dia itu seperti barang saja, bagaimana bisa dia menghadapi ini semua ?” Raman merasa gamang, sementara itu Ishita berkata pada Adi yang masih tertidur “Kami tidak akan mengirimkan kamu hanya untuk Ruhi, kamu dan Ruhi itu sama bagiku, aku bisa mengerti kamu, aku tidak bisa memilih antara kamu dan Ruhi, kalian berdua adalah bagian hidupku, ini adalah tantangan baru untukku untuk mengurusi kamu, aku akan menerima hal ini, aku akan berusaha sebaik mungkin sehingga kamu tidak akan keluar dari rumah ini” ujar Ishita, kembali ke tempat Raman, psikolog itu mengatakan “Adi itu ketakutan dimana rumahnya, dimana dia akan tinggal, hatinya sangat menderita” ujar psikolog tersebut, Ishita masih ngobrol dengan Adi “Aku tidak akan membiarkan kamu hancur, kamu adalah bagian dari hatinya Raman dan aku tidak akan membiarkan dia terluka” ujar Ishita sambil menatap ke arah Adi yang masih tertidur, 

Ditempat Raman dan psikolog “Tuan Raman, kalau Adi mengambil langkah yang ekstrim maka itu akan berbahaya”, “Bagaimana caranya meyakinkan dia kalau aku sangat mencintainya ?” tanya Raman sedih “Anda harus bisa meyakinkan Adi dengan sebuah tindakan”, “Maksudmu dengan tidak mengirimkannya kembali ke Shagun ?” psikolog tersebut mengangguk “Anak anak harus merasa dirinya itu tinggal dengan rasa nyaman dan aman yaitu di rumahmu” ujar psikolog 

Raman sedang berjalan jalan di malam hari sambil menikmati birnya dan memikirkan Adi “Ayah macam apa aku ini ? Aku telah mengorbankan putriku untuk menyelamatkan hidup Adi, akulah yang bertanggung jawab untuk hal ini” ujar Raman sambil teringat pada ucapan psikolog dan apa yang dikatakan oleh Adi “Aku tidak akan membiarkan Adi pergi tapi bagaimana dengan Ruhi ? Shagun pasti akan merusak hidupnya, dia pasti akan mempengaruhi Ruhi dengan hal hal yang negatif dalam dirinya” Raman merasa cemas dan menyalahkan Dewa karena masalah ini sambil berkata “Kali ini anak anakku akan bersamaku ! Tidak ada seorangpun yang akan merampas anak anakku dariku bahkan juga tidak kamu, Dewa !” bentak Raman lantang “Semua ini terjadi karena aku ! Mereka tidak bisa dibagi, aku akan membuat semuanya menjadi baik !” ujar Raman 

Malam itu Raman pulang ke rumah, semua orang sudah tertidur, Raman lalu berkata pada dirinya sendiri “Maafkan ayah, Ruhi , maafkan aku, Ishita ,,, tapi kali ini Adi adalah prioritas utamaku, aku tahu aku telah melakukan kesalahan tapi suatu hari nanti kalian akan mengerti” gumam Raman pada dirinya sendiri, tak lama kemudian Raman masuk ke kamar dan dilihatnya Ishita belum tertidur, masih asyik membaca baca dokumen yang diberikan oleh Vohra “Raman, kamu sudah pulang ? Kamu darimana saja ? Aku menelfonmu berkali kali tapi kamu tidak mengangkat telfonmu” Raman hanya berdiri mematung dan tidak menjawab pertanyaan Ishita “Kamu habis minum ya ? Apa ada masalah dikantormu ? Atau kamu masih merasa gelisah memikirkan Ruhi atau mungkin sudah merayakan duluan kepulangan Ruhi ?” ujar Ishita sambil berusaha membuat Raman bicara, 

Raman hanya terdiam “Besok adalah waktunya kita untuk bersukacita, kita harus ke pengadilan jam 9 pagi besok, aku benar benar sangat bersemangat, aku sudah mengatakan pada tuan Vohra tentang hak asuh Adi juga, keluarga kita akan lengkap nanti” ujar Ishita senang “Dokumen ini sangat penting, aku akan menjaganya bersama diriku, ayooo kita tidur” ujar Ishita, tiba tiba Raman mematikan lampu kamar dan mendekat ke arah Ishita dan menciumi leher Ishita dari belakang sambil memegang tangan Ishita, sesaat Ishita terhenyak “Raman ,,,”, “Aku tidak bisa jauh dari kamu” bisik Raman lembut “Waktu itu Ruhi mengganggu kita saat perayaan Holi tapi sekarang dia tidak ada disini dan Adi juga sudah tertidur, saat ini hanya kamu dan aku” perasaan Ishita mulai melayang layang, kemudian Raman mengangkat Ishita dari kursi rodanya, Ishita masih memegang dokumen itu, 

Kemudian dibaringkannya Ishita ditempat tidur, dibelai wajahnya dan mulai diciuminya lagi leher Ishita, Ishita merasa malu, kemudian Raman melepaskan jas yang dikenakannya dan kembali menciumi leher Ishita, Ishita kemudian berbalik, wajah mereka saling memandang sambil tersenyum satu sama lain, ketika Raman hendak semakin mendekat ke wajah Ishita tiba tiba kaki Ishita terasa sakit “Aduuh”, “Maafkan aku, aku lupa kalau kakimu terluka” Ishita kemudian bangun sebentar untuk membenarkan letak posisi kakinya “Sudah sekarang lebih baik kamu tidur saja” Ishita menuruti permintaan Raman dan tertidur kemudian sambil berkata “Maafkan aku”, “Aku yang minta maaf” sahut Raman sambil memeluk Ishita, sedetik kemudian Ishita pun tertidur, Raman lalu mengambil dokumen yang dipegang oleh Ishita dan mulai membacanya sambil menangis kemudian mencium kening Ishita yang sudah tertidur lelap disisinya 

Keesokan harinya, Ishita sudah sibuk di dapur bersama Simmi dan Neelu “Kalian semua tidak usah khawatir karena Ruhi akan pulang ke rumah kita lagi” ujar Ishita senang, nyonya Bhalla menghampirinya dan bertanya tentang Adi dan Raman “Adi masih tidur, Raman juga masih tidur” Simmi mulai menggoda ucapan Ishita “Masih tidur atau kecapekan semalaman ?”, “Simmi, fokus pada makanan saja yaa” balas Ishita, saat itu tuan Bhalla datang dan meminta mereka untuk cepat bersiap siap, Ishita bergegas hendak mengambil dokumennya dikamar dan meminta Neelu untuk mengantarnya ke kamar, sesampainya dikamar, Ishita meminta Neelu untuk menyiapkan teh hijau untuknya, setelah Neelu pergi, 

Ishita teringat peristiwa semalam sambil menatap ke tempat tidur, Ishita teringat bagaimana mesranya Raman semalam sambil senyum senyum sendiri dan berkata “Sayang sekali kakiku ini jadi penghalang semalam” ujar sambil mentertawakan dirinya sendiri, kemudian, Ishita mulai mengecek dokumennya dan mencari surat yang diberikan oleh Vohra, ternyata surat itu tidak ada disana, Ishita mulai panik “Kemana surat itu ? Aku menaruhnya disini” Ishita kemudian membongkar bongkar selimutnya dan turun dari kursi rodanya untuk mencari surat tersebut tapi tetap saja tidak ditemukan, saat Neelu datang dengan teh hijaunya, Ishita langsung meminta Neelu untuk mengantarnya kebawah, begitu sampai dibawah, seluruh keluarga Bhalla sudah bersiap hendak berangkat, Ishita segera memberitahu mereka kalau surat yang diberikan Vohra menghilang, mereka semua terkejut SINOPSIS MOHABBATEIN episode 398 by. Sally Diandra

Bagikan :