SINOPSIS MOHABBATEIN episode 395 "ISHITA BERJUANG UNTUK RUHI" by. Sally Diandra | Sinopsis Mohabattein Antv

SINOPSIS MOHABBATEIN episode 395 "ISHITA BERJUANG UNTUK RUHI" by. Sally Diandra

Loading...
SINOPSIS MOHABBATEIN episode 395 "ISHITA BERJUANG UNTUK RUHI" by. Sally Diandra Raman dan Ishita sedang membicarakan tentang anak anak dan kesepakatannya dengan Shagun dikamar mereka “Adi dan Ruhi adalah dua pribadi yang berbeda, Ruhi itu lebih bisa menerima karena dia dibesarkan dalam keluarga ini sedangkan Adi hanya melihat sosok ibunya, aku percaya diri tentangnya, kita semua lebih peduli pada Ruhi tapi pikirkan juga Adi, aku harus bisa menghilangkan perasaanku pada Ruhi dan mulai fokus sama Adi, dia seharusnya tidak merasa sedih dan sendirian” Raman hanya terdiam sambil memegang tangan Ishita dan berkata “Aku sangat yakin sekali, kalau kamu pasti akan bisa mengambil kembali putri kita” hibur Raman sambil memeluk Ishita 

Raman lalu mengantar Adi ke sekolah dan memintanya untuk mengenakan tanda pengenalnya “Kenapa ? Kenapa kamu terlihat murung, Adi ? Sedari tadi kamu hanya diam dan tidak bicara sepatah katapun didalam mobil tadi, biasanya kamu demam sebelum menjalani ujian”, “Aku tidak sedang ujian” ujar Adi lirih, Raman kemudian memberikan uang saku ke Adi dan berkata “Belilah sesuatu di kantin sana”, “Tidak ! Aku sudah bawa bekal makanan” Adi menolak kemudian masuk ke dalam sekolah, saat itu Bala bertemu dengan Raman dan berkata “Raman, Ruhi belum juga datang sampai sekarang, tadi aku mengantar Shravan dan memintanya untuk menemui Ruhi tapi Ruhi tidak ada", “Aku akan pergi, aku harus mengambil hasil laporan medisnya Adi juga”, “Aku akan ikut denganmu” ujar Bala menimpali ucapan Raman 

Di kantor pengacara Vohra, Ishita mengucapkan selamat dan semoga berhasil pada kedua saudaranya, Vandu dan Mihika, mereka berdua kemudian menemui Vohra, pengacara Shagun dan Mihika menemuinya sebagai klien si pengacara “Aku ingin mengkasuskan perceraian dengan suamiku”, “Kami sudah menemui banyak pengacara dan tidak ada seorangpun yang siap mengambil kasusnya” sela Vandu menimpali ucapan Mihika “Kenapa memangnya ?”, “Karena suamiku itu sangat licik dan berpengaruh, dia telah menjebakku” ujar Mihika kesal “Kamu memiliki banyak kontrak kan ?”, “Sepertinya dia juga tidak siap memberikan aku surat cerai dan tidak bisa mendukung aku, kak” Mihika pura pura sedih menimpali ucapan Vandu “Aku sudah mendengar banyak tentang anda, kami memiliki banyak hal dimana kami harus menyiapkan semuanya, misalnya seperti jika anda menangani sebuah kasus yang anda tangani tapi diluar jalur yang ada ada, apakah anda bisa menceritakannya padaku ? karena dengan begitu kami akan mendapatkan kepercayaan diri”, “Contohnya dalam hal apa ?” tanya Vohra 

“Mungkin sesuatu yang bisa dilakukan antara benar dan salah ? Kadang kita harus melupakan kebenaran dan mulai berbohong, apakah ada kasus yang pernah anda tangani dimana hal itu mustahil, apakah anda mau menceritakannya ?” sela Mihika “Aku menangani banyak kasus” ujar Vohra yang juga menyinggung kasus hak asuh Ruhi “Jadi kita harus tahu bagaimana pikirkan kita bekerja”, “Iyaa, kamu bisa bertanya pada kakakmu, Ishita Bhalla juga, kenapa kamu ingin tahu dari aku ? Apakah aku benar nyonya Khanna dan nyonya Vandita Bala Chandra ?” Mihika dan Vandu kaget ketika Vohra tahu siapa mereka sebenarnya 

“Kamu kira permainan kanak kanak seperti ini bisa bekerja, kamu ingin membuktikan apakah aku ini pengacara yang bagus atau tidak bukan ? Ini buktinya, aku kenal Ashok Khanna dengan baik dan aku tahu kalau kamu tidak akan menceraikan dia dan kakakmu saat ini sedang menunggu kalian diluar kan ?” Vandu langsung menyela “Paling tidak pikirkan dari sudut pandang sebagai orang tua, tuan Vohra”, “Maaf, kasusnya sudah ditutup” ujar Vohra santai “Kakakku pasti akan kecewa”, “Aku tahu bagaimana pekerjaanku, hukum tidak bisa melihat emosi seseorang, aku mohon pergilah” pinta Vohra 

Saat itu Shagun sedang mendapat telfon dari seseorang, tak lama kemudian ibunya Bala datang ke kamar dimana Shagun menginap di hotel tersebut, mereka berdua saling tersenyum senang, rupanya ibunya Bala ingin memberikan dukungan ke Shagun atas usahanya merebut Ruhi dari Ishita “Shagun, ketika aku tahu Ruhi sekarang bersama dirimu, aku sangat senang, Ruhi akan belajar sopan santun sekarang, aku sudah bilang kalau Ishita itu tidak bisa mengurusi anak dan dia juga mandul, mana bisa dia mengurusi anak” Shagun hanya tersenyum mendengar ocehan ibunya Bala “Aku datang kesini mau mengatakan padamu, Shagun ,,, jangan merasa sendirian, aku selalu bersama kamu, Ruhi seharusnya tidak ikut bersama Ishita” saat itu Ruhi sudah berdiri disana dan menatap ke arah ibunya Bala dengan perasaan tidak suka “Ibu Ishi akan datang kesini untuk mengambil aku dalam waktu 48 jam !” ibunya Bala tidak menggubris ucapan Ruhi dan menawarinya biskuit 

“Ruhi, kamu mau biskuit ?”, “Tidak mau !” bentak Ruhi, Shagun meminta Ruhi untuk bersikap sopan pada orangtua tapi Ruhi tetap saja tidak mau, Shagun bersikeras “Ruhi ini berubah karena Ishita pasti !”, “Coba suapkan aku biskuitnya !” pinta Ruhi, ketika nyonya Bhalla menyuapkan biskuit itu untuk Ruhi, Ruhi segera menggigit tangan ibunya Bala, Shagun langsung memarahi Ruhi “Ruhi, begini caranya sikapmu sama orang yang lebih tua ?”, “Lihat bagaimana sikapnya, apa yang Ishita ajarkan padanya ?” sindir ibunya Bala yang kesal melihat Ruhi “Aku tidak akan tinggal disini !” Ruhi langsung berlari keluar dari kamar, Shagun berteriak mengejarnya dan meminta untuk berhenti namun Ruhi terus berlari, 

Tiba tiba Raman dan Bala sudah ada didepan Ruhi, Ruhi langsung berhenti dan memeluk Raman, Raman segera memeluknya dan menggendongnya, Shagun meminta Raman menurunkan Ruhi namun Raman memberikan kode untuk berhenti pada Shagun “Ayah, aku ingin bersama dengan ayah saja” pinta Ruhi “Ruhi, untuk saat ini Ruhi bersama ibu Shagun dulu dan ingat apa yang ibu Ishi katakan, jangan takit pada siapapun” Ruhi mengangguk lalu Raman menurunkan Ruhi dari gendongannya, Shagun segera menyuruh Ruhi balik ke kamar “Kamu tidak akan mengambil Ruhi kan ? Lalu kenapa kamu datang ?”, “Aku membutuhkan hasil laporan medisnya Adi untuk mendaftar di pelatihan sepak bola” ujar Raman dingin 

Di kantor pengacara Vohra, Ishita memuji kepintaran Vohra setelah mendengar cerita dari Mihika dan Vandu “Dia memang sangat pintar tapi kita tidak bisa membiarkannya melakukan hal ini” ujar Ishita yang saat itu melihat Vohra berjalan keluar dari kantornya, Ishita segera menghentikan Vohra, Vohra malah balik memarahi mereka bertiga karena cara mereka yang keliru seperti ini “Apakah kamu mempunyau anak ?”, “Iyaa aku punya” Ishita kembali menyela “Lalu bagaimana bisa kamu tidak mengerti, tuan Vohra”, “Kenapa juga suamimu tidak membacanya sebelum menandatanganinya” balas Vohra 

“Tapi kamu yang menambahkan pasalnya di surat yang sudah dibaca sebelumnya” Ishita terus ngotot berdebat dengan Vohra “Seorang ibu tidak akan pernah gagal, Dewa tidak akan menggagalkan aku, aku pasti akan menang nanti, kamu pikir untuk apa kamu menjabat profesimu yang seperti ini kalau tidak uuntuk mendapatkan keadilan bagi semua orang, dimana kebenaran itu ? kamu memang tidak memiliki sisi kebaikkan, aku benar benar kasihan padamu, aku harap suatu hari nanti kamu sadar dengan apa yang kamu sembunyikan dengan perbuatanmu sendiri” ujar Ishita kesal 

Di hotel, Shagun memberikan dokumen itu ke Raman dan memarahi Ruhi yang membuat masalah lagi dengan ibunya Bala, Raman dan Bala menatap kearah mereka dan merasa heran “Ibu, apa yang ibu lakukan disini ?”, “Apakah aku tidak boleh mempunyai teman ? Hanya karena putraku tidak peduli padaku” ujar ibunya Bala santai “Ibu tahu kan kalau perempuan ini selalu membuat masalah dengan kita”, “Iyaaa, aku tahu kalau dia menentang Ishita, aku juga seharusnya lebih memperhatikan Shravan dan calon adiknya yang mau lahir, tapi Ishita benar benar tidak beruntung” sahut ibunya Bala “Ibu hentikan !” Bala memarahi ibunya yang sering sekali menyebut Ishita sebagai wanita yang tidak beruntung, aku akan selalu mendukung Ishita ! Ayoo Raman, kita pulang” ajak Bala sambil keluar dari sana, Raman juga berkata “Aku juga tidak akan membiarkan kamu menang, Shagun” ujar Raman kemudian menyusul Bala keluar dari kamar Shagun 

Sementara itu Mihika akhirnya sudah sampai dirumah dan Ashok langsung bertanya padanya “Mihika, apakah kamu baru saja menemui Vohra ?”, “Bagaimana kamu tahu ?” tanya Mihika heran “Aku bisa tahu semuanya”, “Kenapa kamu tidak mau membantu kami, Ashok ?” ujar Mihika sambil menangis dan menjelaskan pada Ashok kalau keluarga kecil Ishita akan hancur “Bahkan aku juga menginginkan hal ini, makanya aku bilang sama Vohra, aku tidak akan membiarkan kesempatan ini, aku ingin melihat Raman dalam situasi yang seperti ini”, “Kamu ini memang memalukan, aku tahu kalau kamu membencinya, tapi kenapa kamu membalas dendam padanya dengan menggunakan keluarganya ?” ujar Mihika kesal “Karena itu adalah keluarganya, aku benci semuanya yang berkaitan dengan Raman !”, “Kamu ini sangat sukses, aku rasa kamu juga pintar dan kamu punya kesempatan emas untuk memenangkan Raman jika kamu membantunya, dia akan menjadi orang yang sangat setia padamu dan perusahaanmu, pilihlah pihak yang benar, Ashok !” ujar Mihika 

“Kamu kira aku ini baru saja lahir kemarin ? Aku akan melihat Raman hancur bagaimanapun caranya !”, “Aku benar benar kasihan sama kamu, Raman itu sangat beruntung karena keluarganya bersama dirinya, dia bisa bicara dengan siapa saja sedangkan kamu, kalau kamu sedang dalam masalah, tidak ada seorangpun yang bicara dengan kamu” sindir Mihika “Aku ini orang yang mandiri, aku tidak membutuhkan siapapun !” balas Ashok sombong “Kamu akan mengerti ketika kamu kehilangan uangmu dan status” sindir Mihika sinis sambil meninggalkan Ashok, begitu Mihika pergi ke lantai atas, Ashok tertawa tertahan dan bergumam sendiri 

Di sekolah Adi, guru sedang menerangkan soal Vohra yang akan memberikan bimbingan karir untuk anak anak di kelasnya Adi, anaknya Vohra yang duduk di dekat Adi sangat senang, namun ketika Vohra masuk ke dalam kelasnya Adi, Adi teringat pada Vohra yang telah membantu ibunya untuk mendapatkan hak asuh Ruhi SINOPSIS MOHABBATEIN episode 396 by. Sally Diandra

Bagikan :