SINOPSIS MOHABBATEIN episode 155 bagian 1 by. Sally Diandra

SINOPSIS MOHABBATEIN episode 155 bagian 1 by. Sally Diandra Parmeet meminta Ishita untuk menyentuh kaknya dan meminta berkatnya “Aku ini lebih tua dari kamu, Ishita ,,, dan ini sebuah ritual” pinta Parmeet, Ishita sedang memikirkan apa yang bisa dia lakukan, sedangkan Parmeet merasa senang karena kali ini Ishita kalah “Aku tidak akan pernah menyentuh kakimu tapi aku harus membuat Simmi merasa senang karena aku telah berjanji pada Simmi untuk peduli dan memikirkannya, memang akan sangat buruk bila setiap perempuan menyentuh kakimu” ujar Ishita sambil hendak membungkuk hendak menyentuh kaki Parmeet, tapi tiba tiba Romi mencegahnya 

“Hentikan, kakak ipar ! Kakak tidak akan menyentuh kakinya karena kak Raman lebih tua darinya maka kakak juga lebih tua dari dia dalam hubungan keluarga karena kakak ipar adalah istrinya kak Raman, akulah yang lebih muda maka aku yang akan menyentuh kakinya” Parmeet hanya tersenyum melihat Ishita diselamatkan Romi “Oh iya, tadi kak Raman telfon, dia meminta kakak ipar untuk bertemu dokter, pergilah ke ibumu” Ishita bergegas meninggalkan tempat itu, kemudian Romi menyentuh kaki Parmeet dan berkata “Berkati aku, kak” ujar Romi 

Ishita kemudian memberikan informasi ke dokter tentang keadaan Amma “Aku telah memberikan obat yang begitu kuat pada ibu anda, dia memang akan merasa lemah, jadi berikan saja padanya susu dingin dengan obat, apakah kamu sudah tahu kabar terbaru tentang kecelakaan itu ?”, “Belum, kami belum tahu, dok ,,, karena ibu juga belum bisa memberikan keterangan apa apa” ujar Ishita “Biarkan nanti aku coba dan bertanya padanya apakah dia mengingat sesuatu ?”, “Mobil putih” tiba tiba Amma buka suara “Ibu, katakan sesuatu kalau ibu mengingatnya”, “Mata setan berwarna biru tergantung di dalam mobil” ujar Amma lagi sambil mengingat ingat sesuatu 

Sementara itu di balai pertemuan warga apartemen, Ruhi merasa senang karena adik bayinya sudah punya nama “Ananya, nama yang bagus, aku suka !” ujar Ruhi polos, Mihir menemani para tamu yang datang, nyonya Bhalla menghampiri Mihir dan bertanya tentang ice creamnya “Aku sudah memesannya, bibi” kemudian Mihir menelfon seseorang, Mihir lalu mendengar suara Mihika “Kami membutuhkan ice cream, siapa yang makan manisannya ?”, “Aku sudah memesannya, Mihika ,,, ini bonnya ! bukankah kamu juga sudah mengingatkan aku, aku bahkan sudah membayar lunas ice creamnya” mereka kemudian saling berdebat satu sama lain, Ruhi segera menghentikan pertengkaran mereka 

“Bertengkarnya nanti dulu, sekarang urusi ice creamnya dulu !”, “Apakah ada seseorang yang meninggalkan ice creamnya di dalam mobil” tanya Mihika, Mihir tiba tiba ingat sesuatu “Sial !” Mihir segera berlari dan dilihat ice creamnya sudah meleleh “Kenapa Mihika tidak mengatakan padaku sebelumnya kalau dia mengetahui hal ini ? Kenapa dia begitu marah seperti itu ?”, “Paman Mihir, mau ice cream ?” tanya Ruhi sambil menunjukkan ice creamnya “Dari mana kamu dapat ice cream ini, Ruhi ?” Ruhi lalu menunjuk kearah Mihika yang sedang membagi bagikan ice cream pada semua orang, Mihir bergegas menghampirinya “Kamu tahu, Mihir ,,, aku melakukan hal ini untuk memberikan kamu pelajaran”, 

“Kamu memang pintar, Mihika ,,, itulah mengapa aku mencintai kamu” Mihir lalu memegang tangan Mihika dan mengajaknya pergi sambil menggodanya namun Mihika berontak “Kamu telah mengusir aku keluar dari rumahmu tadi pagi sekarang seperti ini !”, “Maafkan aku, Mihika” Mihir mendekatkan tubuhnya ke Mihika sambil berkata “Aku membutuhkan sebuah ciuman” Mihika berusaha mempermainkan Mihir dan bergegas berlari meninggalkan Mihir sambil tertawa senang Beberapa tamu yang datang bertanya tentang Ishita “Dia sedang sangat sibuk saat ini karena ibunya sedang sakit”, “Kami datang kesini untuk mengatakan padanya tentang kasus kecelakaan ibunya dokter Ishita” ujar para tamu tersebut yang ternyata adalah salah satu ibu pasiennya Ishita “Baiklah, ikut denganku” Mihir kemudian mengajak mereka masuk ke aparteman, 

Saat itu Ishita sedang mengantar dokter dan mengucapkan terima kasih padanya, kemudian dokter itu pun pergi, Mihir lalu mengajak para wanita itu bertemu dengan Ishita, Ishita akhirnya bertemu dengan saksi kecelakaan Amma, Ishita merasa senang ”Apa yang terjadi pada malam itu ?”, “Aku tidak bisa melihat wajahnya, mobilnya tiba tiba menabrak pohon dan dia pergi begitu saja, aku hanya melihat tiga nomer kendaraan terakhirnya” ujar wanita tersebut “Mihir, apakah kita bisa mencari tahu tentang hal ini ?”, “Polisi pasti bisa mencari tahu” sahut Ishita “Aku melihat mobil itu di tempat parkirmu” Ishita terkejut dan pergi bersama mereka dan Mihir ke tempat parkir, 

Ishita kemudian bertanya pada penjaga gedung “Banyak sekali mobil yang datang hari ini, nyonya ,,, dan aku juga tidak memperhatikannya” ujar penjaga gedung “Tapi aku yakin aku melihat mobil yang sama dengan nomer 322 dibelakangnya”, “Terima kasih, kalian mau datang kesini, ini sangat membantu kami” ujar Ishita “Jaga ibumu baik baiknya ya, dok ,,, kalau ada informasi terbaru, kami akan segera memberitahu kamu” dalam hati Ishita berfikir “Mobil siapakah itu ?” bathin Ishita bingung 

Malam harinya, Ishita sedang berfikir kalau dirinya harus mengatakan pada Raman tentang nomer mobilnya, semua orang sudah duduk untuk menikmati makan malam, nyonya Bhalla memuji Ishita karena telah mengurusi pestanya dengan sangat baik “Apakah Raman akan pulang terlambat ?”, “Lebih baik simpan makanan ini untuk Raman” pinta nyonya Bhalla “Kalau begitu aku akan makan bersama Raman saja, jadi ibu tidak usah cemas, aku akan menyiapkan makanan untuknya kalau dia pulang nanti” ujar Ishita, 

Tuan Bhalla kemudian ngobrol dengan Simmi “Simmi, hari ini kami harus bersabar menghadapi sikap Parmeet, itu semua hanya karena kamu dan Ananya tapi kami masih tetap tidak akan memaafkannya, tapi ayah tidak akan terima jika dia mulai mendekati kamu, kami harus mengikuti keputusan Raman” ujar tuan Bhalla “Apalagi Parmeet hampir saja membuat Shagun memberikan nama pada bayimu ini, berterima kasihlah pada Tuhan karena Dia telah menyelamatkan kamu, yang ayahmu katakan itu benar, kamu harus menjauh dari dia, Simmi” Simmi menangis sedih “Kamu harus bisa menerima fakta yang sebenarnya, Simmi” Simmi bergegas pergi dari sana SINOPSIS MOHABBATEIN episode 155 bagian 2 by. Sally Diandra

Bagikan :