Loading...

FIRST KISS CHAPTER 14 by. Tatah Bunda Qirania

FIRST KISS CHAPTER 14 by. Tatah Bunda Qirania Pagi itu tak seperti pagi biasanya. Jodha sudah siap dan rapi kali ini dia harus pergi ke kantor bukan hanya pekerjaan yang sudah menunggu nya, Tapi dia juga ingin menghapus kejadian pahit semalam. kali ini dia tak melihat wajah Jalal dimanapun sudut rumah.  Dia menuruni tangga dan mendapati Ami Ja'an sudah menyediakan sarapan. 
" Pagi Ibu?" Sapa Jodha 
" Pagi sayang, kau kekantor hari ini?" Tanya Ami Ja'an 
" Ya bu, banyak pekerjaan yang menunggu ku. aku berangkat dulu ya bu?" " Kau tidak sarapan dulu?" 
" ehm " Jodha berpikir sebentar dan akhirnya mengambil sehelai roti lalu memakannya. Ami Ja'an hanya tersenyum melihat tingkah Jodha. Jodha seorang yang jarang untuk sarapan ketika berangkat kerja. Tak Khayal jika dia sangat rapuh menyangkut kesehatannya. 
Jam menunjukkan pukul 08:00 tepat saat itu Jodha melangkahkan kaki nya ke kantornya lagi. banyak yang membungkukkan badan ketika Jodha melewati mereka. Dengan senyum ramah Jodha menyapa mereka. Pemandangan yang selalu Jodha tidak inginkan adalah ketika dia melihat sosok ibu tiri yang sekarang menjabat sebagai ibu direktur untuk negara India. sedangkan Mr. Bharmal ayah Jodha beliau lebih dominan mengurus kantor di luar negeri. Ruqaiyah sudah berdiri didepan pintu Jodha. Jodha menatapnya sinis " menyingkirlah, kau menghalangi jalan ku" Ucap Jodha tanpa memandang Ruqaiyah Ruqaiyah lantas minggir dan ikut masuk ke Ruangan Jodha. 
" Aku sudah mengurus semua nya selama kau tak ada. terutama juga surat tuntutan untuk Akbar Company" Ujar Ruqaiyah santai sambil duduk di sofa. Jodha mengernyitkan alis 
" apa" 
" yah seperti yang kau tau sudah 1 minggu Jalal menutupi sebab runtuhan bangunannya, para investor akan menuntut Akbar Company jika dalam beberapa minggu ini pelakunya tak tertangkap. Para investor curiga bahwa ada penyelewengan dana yang dilakukan akbar company." Ruqaiyah menjelaskan semua ke Jodha dengan wajah yang sangat santai. Jodha menatapnya dari kursi kerjanya dengan sinis 
" kau belum mendapatkan persetujuanku!" 
" aku yakin kau akan menyetujuinya" Tutur Ruqaiyah sambil berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan Jodha. Jodha menatapnya dengan pandangan nanar. Dia lantas mengeluarkan Ponsel dan ingin memencet tombol 1 tapi dia urungkan. Yah, Tombol 1 terdapat nomor Jalal, Jodha ingin menanyakan mengenai masalah itu tapi egonya lebih besar. dia lantas menelepon ajudannya. 
" Miss Phoja tolong siapkan laporan mengenai insiden wahana itu, aku akan menemuimu di restoran biasanya setelah rapat." Perintahnya di telepon. Tak berselang lama sekretaris jodha masuk dan memberitahu jika rapat sudah dimulai. Jodha mengangguk dan berjalan mengikuti sang sekretaris. 
Tempat yang begitu rapi kini berubah seperti kapal pecah, banyak baju yang berserakan di lantai dan tempat tidur. Jalal terbaring disana, terbaring dengan pakaian yang sudah tak utuh lagi bersama dengan seorang perempuan. Nampaknya sinar matahari sukses membuat Jalal tersadar dari tidurnya. Dia bangun lebih dulu sedangkan perempuan yang entah itu siapa masih tertidur pulas. Jalal memunguti pakaiannya lalu bergegas ke kamar mandi. Tak lama akhirnya dia keluar tanpa membangunkan perempuan itu. Jalal lantas menaruh sejumlah uang ke pinggir bantal perempuan itu lalu pergi meninggalkannya. Dia,Jalaludin telah kembali menjadi Jalal yang seperti sedia kala. Jalal berjalan dengan pandangan yang sangat datar. Dia memasuki mobilnya untuk menuju ke rutinitasnya. 
" Mr. Khan temui aku di bandara. kita ke Sidney sekarang juga, jangan lupa bawa semua berkas dan pakaian ku" ujar Jalal yang tengah menggunakan earphone bluetooth untuk menghubungi Mr. Khan. Tanpa menunggu jawaban dari Mr. Khan. Jalal sudah menutup telepon nya terlebih dahulu. 
Jodha kembali ke rumah di kala hari sudah senja. Dengan menggenggam berkas yang sudah di sodorkan oleh miss Phooja dia berjalan memasuki rumah. langkahnya berhenti ketika Mr. Khan berjalan sambil menarik koper Jalal. 
" Anda mau kemana Mr. Khan?" Sapa Jodha dengan pandangan yang bingung. Mr. Khan memberi hormat kepada Jodha 
" Tuan Jalal menyuruh saya untuk mengemasi barangnya dan berangkat ke Sidney hari ini" 
" Apakah ada masalah di sana?" Tanya Jodha 
" saya tidak tahu nyonya, mungkin anda bisa menanyakan kepada tuan sendiri. Maaf Nyonya saya berangkat dulu" Pamit Mr. Khan. Jodha sempat terdiam sesaat,namun akhirnya dia tersenyum dan mengangguk. 
Selepas kepergian Mr. Khan, Jodha berdiri mematung di dalam kamarnya. Sekelebat bayangan semalam bernaung diingatan Jodha. Jodha memejamkan mata mengingat itu semua, dada nya sesak dia tak tahu apa yang telah ia rasakan saat ini, KESEPIAN? mungkin itu yang ia rasakan. Jodha memulai hidupnya tanpa Jalal sudah satu minggu. Tak ada niatan sekalipun darinya untuk menghubungi sang suami. begitu juga Jalal tak pernah sekalipun menghubunginya. Ami Ja'an mulai risih dengan hubungan mereka. Sehingga dia memutuskan untuk pergi ke New York dengan alasan bisnis nya. Jodha memohon kepadanya agar tinggal lebih lama. Tapi Ami Ja'an tetap pada pendiriannya. Hari ini tepat pukul 10:00 pagi, Jodha mengantarkan Ami Ja'an ke Bandara. Mereka saling berpelukan satu sama lain, berat bagi Jodha untuk melepas ibu mertuanya itu. Ibu mertuanya sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri selama ini. 
" Cepat kembali ya bu, Jaga kesehatan" Ucap Jodha dengan mata yang berkaca - kaca " Ibu akan kembali jika kau sudah mengandung. di situ ibu akan kembali untuk merawatmu" Jodha tercengang namun akhirnya dia tertawa setelah mengetahui jika itu hanya candaan saja. Jalal tengah bergulat dengan pekerjaannya. Dia bahkan melupakan makan dan tidur sesempatnya. Berulang kali Mr. Khan menyuruhnya untuk menelepon Jodha. Tapi hanya dijawab 
" Saya Sibuk" hanya kata - kata itu yang selalu dia lontarkan. Hari ini dia sedang duduk bersandar di kursi kerjanya. Sampai akhirnya Mr. Khan datang dengan membawa berita. 
" Tuan, Sepertinya Adam masih ada di sini, mata - mata kita mendapatkan informasi jika dia sering ke salah satu club di sini" Ucap Mr. Khan 
" Amati terus jangan sampai lepas" Perintah Jalal sambil mengepalkan tangannya. Ruqaiyah tengah duduk santai di salah satu kursi ayun yang berada di taman rumah nya ehm lebih tepatnya rumah Jodha dulu. Dengan wajahnya yang terlihat bahagia dia menikmati apa yang dia lakukan untuk saat ini. Salah satu pelayan menghampirinya 
" Maaf Nyonya, anda ada tamu" 
" Siapa?" " Nona Jodha ingin bertemu dengan anda" mendengar nama itu Ruqaiyah mengeryitkan alis 
" Untuk apa dia menemuiku?" batin nya. Ruqaiyah berjalan menuju kesalah satu ruang keluarga dimana sudah ada Jodha yang menunggu di sana. 
" Kau mencariku?" Tanya Ruqaiyah yang kini sudah berada di depan Jodha. Dari Sofa yang Jodha duduki, dia melemparkan sebuah amplob yang mana isi dari amplob itu berserakan di atas meja. 
" bisa kau jelaskan apa maksud itu?" Tanya Jodha dengan nada yang tegas.
" OH. Dia adik ku" Jawab Ruqaiyah. 
" Tidak penting buat ku untuk tau siapa keluarga mu. yang aku tanyakan di sini. APA MAKSUD RENCANA MU?" Bentak Jodha. Ruqaiyah terdiam. yah seperti yang kita tahu bahwa Ruqaiyah tidak sekalipun terlibat dalam insiden itu. semua itu hasil rencana ibu dan adiknya. tapi demi sang adik Ruqaiyah bahkan siap untuk mempertaruhkan nyawanya. 
" Bukankah dari awal kau sudah tahu rencana ku ? Serahkan saja aset itu kepada ku beserta surat hak milik nya. karena itu memang hak ku dulu , seperti yang orang tua mu sepakati" Jodha hanya tersenyum mendengar itu 
" Mungkin kau lupa, Jika Aset itu adalah milik suami ku, dan akan beralih kepemilikannya kepada ku? aku masih pemegang saham terbesar jadi segala ancaman dan tindakan mu aku tidak akan pernah takut. bersiaplah untuk kalian, aku akan memasukkan kalian semua ke penjara" Ucap Jodha seraya pergi meninggalkan Ruqaiyah. 
" Bagaimana jika suami mu juga ikut dalam rencana ini?" Tanya Ruqaiyah menantang 
" Maka kalian semua akan pergi bersama - sama ke dalam penjara" Jodha pergi menjauh dari rumah masa kecilnya itu. pertanyaan Ruqaiyah masih terngiang di telinganya. Jodha mulai bimbang 
" Benar kah suami nya selama ini melindungi Adam?". Jodha lantas langsung mengambil ponsel dan menelpon Miss Phooja. 
" Miss Phooja tolong kau tangkap Adam dan masukkan dia ke penjara" Perintah Jodha. 
" Maaf nona. tapi Adam sudah tidak bisa kita laporkan di India karena laporan atas tuduhan wahana itu sudah dicabut" 
" Apa? Siapa yang melakukan itu?" 
" Tuan Jalal nona" Bak di sambar petir Jodha langsung menghentikan laju mobilnya. Pikirannya sudah tak bekerja lagi untuk saat ini. Perasaan marah, benci, dan tak percaya menyelimuti Jodha. Jalal yang baru saja mendapatkan laporan kalau bodyguardnya sudah menangkap Adam, langsung bergegas menuju ke TKP. Jalal memasuki suatu bar yang letaknya memang tersembunyi dari keramaian kota Sidney. Mr. Khan sudah berada di sana menyambut Jalal. Jalal melihat Adam yang sudah tersungkur dengan darah segar mengalir di bibir nya. Adam melihat Jalal berjalan mendekatinya, sekejab itu juga Adam meludah kan darah yang ada di bibirnya. 
" BRENGSEK KAU!" Ucap Adam seraya ingin menghantam wajah Jalal. Namun usahanya di tahan oleh bodyguard Jalal. Jalal tersenyum puas melihat Adam 
" Jangan kau kira aku akan melepasmu begitu saja, kau kira dengan menghancurkan impian ku kau pikir akan bisa hidup bahagia dengan uang yang kau dapatkan? jangan harap karena kau akan ku bawa ke penjara di Sidney ini" Ucap Jalal. Jalal menyuruh Bodyguardnya untuk membawa Adam ke kantor polisi karena dia akan menuntun Adam di pengadilan Sidney. Namun ketika mereka keluar dari Club itu. Puluhan mobil polisi datang mengerumuni Jalal dan Adam. 
" Siapa yang sudah menghubungi mereka?" Tanya Jalal. Tapi Hanya di jawab Gelengan kepala oleh Mr. Khan. Dengan pandangan yang bingung Jalal menatap para polisi Sidney yang mendekat kepadanya. Dengan berbahasa Inggris polisi itu menerangkan maksud kedatangannya. 
" Maff tuan Jalaludin dan Adam. anda kami tangkap atas tuduhan kerja sama dalam penyelundupan dana investor dan penyalahgunaan dana" Mr. Khan tercengang dan mencoba mendebat polisi itu 
" Maaf tapi apa anda punya bukti? dan mana surat penangkapannya?" Polisi itu menyerahkan surat penangkapan kepada Mr. Khan. Mr. Khan mengernyitkan alis nya ketika membaca surat itu terlebih lagi membaca nama si penuntut itu. Mr. Khan memandang Jalal dengan tatapan yang tak bisa di gambarkan. Jalal bingung melihat ekspresi Mr. Khan, dia ingin bertanya tetapi polisi sudah memborgol dan membawanya masuk ke mobil. Mr. Khan mengejarnya dan memegang tangan Jalal erat. 
" Anda tenang saja saya akan mengurus semua nya. saya hanya memohon anda untuk bersabar" Ucapan itu mengantarkan Jalal yang kini tengah di gelandang polisi menuju kantornya untuk di interogasi. FIRST KISS CHAPTER 15 by. Tatah Bunda Qirania
Bagikan :
Back To Top